TGB (TUAN GURU BODONG)

Akademik, Kampus, Medan, Nasional2002 Dilihat

Kita hidup menjelang kemunculan Dajjal. Semua aspek kehidupan seolah bergerak pasti ke titik yang satu dan sama: memberikan panggung bagi kehadiran makhluk yang juga sering dijuluki The Great Deceiver atau Penipu Super Bodong itu.

Al-Masih ad-Dajjal atau Yesus Bodong adalah makhluk jahat yang dinubuatkan kemunculannya pada akhir zaman. Nubuat ini bukan cuma ada dalam eskatologi Islam, tetapi juga bisa ditemukan pada sosok AntiKristus dalam eskatologi Kristen. Makhluk ini muncul dan berkuasa pada zaman goro-goro, zaman kacau yang kehadirannya disebut dalam eskatologi Hinduisme dan Budhisme, dan juga diramalkan dalam legenda-legenda kuno dari berbagai pelosok dunia.

Istilah dajjal itu sendiri berasal dari akar kata dajl yang bisa dimaknakan sebagai menipu, tipuan, penipu. Dan, secara umum, zaman yang dikuasai Dajjal tersebut memang ditandai oleh kehidupan yang penuh tipudaya.

Charles Pierre Baudelaire – penyair dan penulis esai Perancis yang terkenal itu – pernah mengatakan, “tipudaya terbaik yang bisa dilakukan Iblis dan sekutunya adalah meyakinkan kita bahwa ia bermaksud baik.” Siasat ini memang sering terbukti berhasil, sebab secara naluriah kita akan langsung menolak untuk berkolaborasi dengan siapa saja yang mengaku jahat.

Kebaikan atau kebenaran itu sendiri memang memiliki celah untuk dimanipulasi. Manipulasi terhadap kebaikan atau kebenaran ini terjadi ketika ia dipakai sebagai sarana persuasi untuk merebut perhatian orang lain, padahal niat dan tujuannya diorientasikan hanya untuk memuaskan kepentingan pihak-pihak tertentu saja. Qur’an sendiri banyak menyebut tentang keberadaan kaum munafiq, yang “mengaku berbuat baik, padahal mempertontonkan kerusakan.” Seorang penipu menyadari penipuan yang dilakukannya, dan orang yang menjadikan kebaikan, yang menjadikan kata-kata bijak dan baik, sebagai sarana penipuan adalah orang yang secara terbuka melakukan kerusakan.

Munafiq ini adalah dajjal kecil yang selalu hadir dalam setiap ruang-waktu. Ia bisa muncul kapan saja dan di mana saja. Ia bisa hadir dengan bendera apa saja: ideologi, agama, nasionalisme, atau isme-isme lainnya. Eksistensinya, secara tak langsung, seolah mengingatkan kita betapa logisnya kemunculan The Great Deceiver itu. Sebab, jika bahkan Yesus – nabi yang memiliki tingkat spiritualitas sangat tinggi itu – akan dibodongkan, jelas tak mengejutkan jika level-level spiritual yang lebih rendah juga bisa dibodongkan.

Kenyataan ini sangat menarik, khususnya setelah melihat jamaknya kemunculan orang-orang yang mengklaim diri mereka sebagai guru spiritual. Pada zaman ketika umat manusia merasa terasing (alienated) dari dunianya sendiri – sebuah bentuk keterasingan yang sebenarnya lahir karena dunia ini sudah terlalu banyak dijejali dengan tipudaya – sektor spiritualisme memang menjadi pilihan alternatif untuk mengatasi keterasingan itu. Karenanya, di mana-mana pasar spiritualitas diramaikan oleh orang-orang yang ingin selamat dari kebingungan spiritual yang dialaminya di tengah badai kehidupan ini. Pada gilirannya, maraknya kebutuhan terhadap kedamaian spiritual tersebut jelas melahirkan peluang bagi munculnya sosok guru spiritual.

Tidak semua jalan spiritual yang beredar di pasar spiritualitas itu jelek. Namun, pada saat yang sama, tidak semua orang yang mengaku guru spiritual itu jujur, baik dan memang memiliki jalan keluar yang benar untuk mengatasi kegundahan spiritual para pengikutnya. Sebab, seperti yang telah disinggung di atas, dunia spiritualitas juga terbuka untuk dimanipulasi. Sebab, banyak orang yang terbukti mengaku guru spiritual dengan bermodalkan kalimat-kalimat bijak yang kosong-melompong – yang dilengkapi dengan penampilan bersorban, berjubah kaftan dan memain-mainkan tasbih di tangan.

Munculnya fenomena seperti ini sudah lama diprediksi oleh para guru spiritual sejati. “Seorang sufi sejati,” tulis Hujwiri, “sangat pantang untuk mengakui dirinya sebagai sufi.” Abu Hasan Ali al-Hujwiri, yang dikenal di anakbenua India dengan gelar Data Ganj Bakhsh, adalah seorang sufi dan teolog Persia abad XI yang menjadi masyhur berkat buku risalah tasawuf yang ditulisnya, Kasyful Mahdjub. Dengan kapasitas dan kompetensi yang dimilikinya, Hujwiri jelas tidak main-main dalam membuat pernyataan tersebut. Sebagai praktisi dan pengamat dunia spiritual Hujwiri melihat betapa rentannya dunia sufi – yang dikenal sebagai areal spiritualitas Islam – terhadap kemungkinan untuk disalahgunakan. “Sufisme pada zaman ini,” tulisnya lagi menanggapi fenomena yang terjadi pada masanya, “adalah nama tanpa realita, padahal dulunya (pada masa Nabi dan Sahabat) ia menjadi realita yang tak punya nama.”

Karena pseudospiritualisme atau spiritualisme palsu ini selalu muncul dari masa ke masa, tentu tidak terlalu sulit untuk mendeteksi keberadaannya. Metode, modus atau lagu yang dimainkannya selalu sama. Mereka memanfaatkan kondisi tipikal yang dialami oleh orang-orang bingung.

Orang-orang bingung semacam itu, biasanya, kehilangan kemampuannya untuk menalar secara rasional dan kritis. Mereka sering melakukan pembenaran dan bertindak berdasarkan asumsi, dugaan yang dianggap sebagai kebenaran dan dijadikan landasan dalam pengambilan keputusan. Mereka seperti janda jablai yang haus kasihsayang, yang bisa dengan mudah ditaklukkan hanya karena penampilan dan rayuan gombal laki-laki hidung belang; padahal, pada sisi lain, laki-laki itu cuma menginginkannya untuk menjadi mainan di ranjang dan tidak pernah sungguh-sungguh serius untuk mewujudkan apa yang digombalkannya. Sekali mereka terjebak dalam perangkap seperti ini, jelas sangat sulit untuk melepaskan diri.

Namun kebodongan, cepat atau lambat, pasti akan tersingkap kepalsuannya. “You can fool some people some times, but you can’t fool all the people all the time,” kata Bob Marley dalam lagunya yang berjudul, Get Up, Stand Up. Qur’an, dalam al-Isra’: 81, juga menyebutkan kalimat senada: “Kebatilan itu sungguh akan lenyap, dan tak akan bertahan lama di atas bumi ini.”

Sejatinya, guru spiritual adalah orang yang membimbing dan memantau kita saat melewati maqam demi maqam dalam kehidupan ini. Guru adalah orang yang membantu kita dalam menempuh perjalanan ruhaniah dari level asfalus safilin menuju level ahsanul taqwim. Guru sejati adalah orang yang menggembleng kita dalam proses pengosongan diri dari segala bentuk ketidakbaikan; yang menjadi penuntun saat kita menjalani proses pengisian diri dengan segala bentuk kebaikan; yang mengantarkan kita untuk mengalami tahap penampakan – tahap di mana manusia mencapai puncak kemerdekaannya sebagai seorang hamba. Tahapan inilah yang dimaksudkan Abu Hasan Nuri, seorang sufi Persia abad IX yang pernyataannya juga dikutip Hujwiri, ketika mengatakan, “Sufisme adalah jalan pembebasan, yang memerdekakan manusia dari segala bentuk ketergantungan diri kepada syahwat duniawi.”

Karenanya – beranjak dari pengertian di atas – kita jelas boleh mempertanyakan keaslian tingkat kemursyidan semua orang yang secara terbuka mengaku sebagai Tuan Guru di dunia sufi itu. Kalaulah kemerdekaan dari segala jenis syahwat duniawi adalah indikator penting bagi level kesufian seseorang, apakah pantas jika orang yang mengaku guru sufi itu lebih suka berkumpul dengan orang-orang yang terindikasi sebagai pelaku korupsi? Pantaskah ia mengaku guru kalau ia begitu mabuk untuk mendekati politikus yang sedang menjadi kandidat dalam pertarungan Pilkada? Pantaskah ia menyuap para demonstran yang menyerbu padepokannya untuk mempertanyakan pemanfaatan dana sumbangan yang diberikan pihak lain?

Daftar pertanyaan semacam itu masih bisa ditambah lebih panjang lagi. Memang, pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak akan bisa dipakai untuk mengalahkan Al-Dajjal al-Masih yang akan muncul nanti. Kalau kita percaya pada apa yang banyak disabdakan Nabi terkait akhir zaman, kita harus meyakini bahwa kita tak akan mampu mengalahkan makhluk jahanam itu. Sebab seperti yang sudah dinubuatkan, Tuhan menetapkan Yesus sebagai satu-satunya anak manusia yang bisa mengalahkannya, membunuhnya. Namun, dengan pertanyaan-pertanyaan kritis seperti di atas kita mungkin bisa mengalahkan para dajjal kecil yang banyak berkeliaran di sekitar lingkungan kita. Dan, kalaupun jumlah dajjal kecil itu tak berkurang karena pertanyaan-pertanyaan semacam itu, kita mungkin saja bisa menyadarkan satu atau dua para pengikutnya yang selama ini terpukau dalam pesona sihir dusta yang disebarkannya. (Ahfatar)