Meneliti Monyet, Seorang Mahasiswi Nekat 10 Bulan Tidur di Hutan

Gardamedannews.com- SULUT – Seorang mahasiswi, Indi, nekad tinggal dan tidur selama 10 bulan di hutan di cagar alam Tangkoko, Sulawesi Utara. Tujuannya, hanya ingin meneliti prilaku tidur pada monyet jambul hitam, yang Cuma ada di Sulawesi Utara.

Kisah itu diunggah oleh akun Twitter @indiratendi pada Kamis (10/6). Dalam cuitannya, pengunggah seorang mahasiswi itu juga menuliskan sebuah caption. “Hari ini hari terakhir aku ambil data penelitian. Akhirnya setelah 10 bulan hidup di hutan, tiap hari ngikutin monyet,” tulisnya.

Tak hanya itu, pengunggah yang seorang mahasiswi itu juga membagikan foto-foto dokumentasinya selama melakukan penelitian.

Saat dikonfirmasi pengunggah bernama Indi mengatakan telah melakukan penelitian monyet yaki sejak awal September 2020 hingga akhir Juni 2021. Kurang lebih sekitar 10 bulan lamanya, Indi harus hidup di hutan demi melakukan penelitian.

Lokasi penelitiannya berada di Cagar Alam Tangkoko, Sulawesi Utara. Dalam penelitian tersebut, ia meneliti perilaku tidur pada monyet jambul hitam Sulawesi (Macaca nigra). Diketahui monyet jambul hitam Sulawesi (Macaca nigra) adalah spesies monyet endemik yang hanya ada di Sulawesi Utara.

Dalam bahasa lokal, monyet jambul hitam Sulawesi ini biasa disebut dengan monyet yaki. “Saya meneliti perilaku tidur pada monyet jambul hitam sulawesi (Macaca nigra), spesies monyet endemik yang hanya ada di Sulawesi Utara.” “Dalam bahasa lokal, monyet ini disebut yaki,” kata Indi kepada Tribunnews.com, Kamis (24/6).

Hasil Penelitian

Indi mengaku, penelitian dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis komunikasi yang digunakan monyet yaki saat bangun tidur dan sebelum tidur. Tak hanya monyet yaki, Indi juga mengamati spesies dan karakteristik pohon yang digunakan monyet yaki untuk tidur.

“Tujuannya untuk menganalisis komunikasi yang digunakan monyet yaki saat bangun tidur dan sebelum tidur.” “Saya juga mengamati spesies dan karakteristik pohon yg digunakan oleh yaki untuk tidur,” terang Indi.

Setelah melakukan penelitian selama 10 bulan, Indi bisa mengetahui gambaran habitat seperti apa yang baik untuk monyet yaki. Hasil penelitiannya ini bisa menjadi masukan untuk survei populasi, lokasi patroli, dan dan lokasi release/pelepasliaran.

Hasil penelitian Indi ini juga bisa memberikan masukan terkait tumbuhan apa saja yang bagus ditanam di Tangkoko pasca kebakaran hebat tahun 2019 silam. “Hasil penelitiannya kita akan tau gambaran habitat seperti apa yang baik untuk monyet yaki. Sehingga bisa menjadi masukan untuk lokasi survei populasi, lokasi patroli, dan lokasi release atau pelepasliaran.”

“Bisa juga jadi masukan tumbuhan-tumbuhan apa saja yg bagus ditanam di Tangkoko pasca kebakaran hebat tahun 2019,” ujar Mahasiswa S2 Biosains Hewan ini. Tbn