Teror Gerakan Senyap Berambisi Jadi Plt Rektor UIN Sumut

Gardamedannews.com- MEDAN- Rektor Univeritas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA, tampaknya harus ekstra hari-hati. Gerakan untuk “menghancurkan” Syahrin yang selama ini tampak terang-terangan, kini berubah menjadi gerakan senyap, dan penuh strategi.

Dulu, di awal Prof. Syahrin menjabat Rektor UIN Sumut, gerakan yang ingin menumbangkannya adalah orang-orang yang secara terang-terangan tak sejalan dengan Syahrin. Tapi, kini gerakan itu dimotori oknum-oknum yang justru berada di lingkaran Prof. Syahrin sendiri.

Berdasarkan hasil investigasi Gardamendannews.com, ternyata gerakan yang secara terang-terangan maupun yang senyap, memiliki benang merah yang tersambung rapi. Tujuan gembongnya adalah ingin menjadi Pelaksana Tugas Rektor UIN Sumut. Sebab, dalam dokumen rahasia mereka tertulis: Prof. Syahrin hanya boleh menjabat Rektor selama satu tahun.

Parahnya lagi, dalam dokumen itu tertulis berapa dana yang sudah “disetor” oknum yang kepingin jadi Plt itu. Ada beberap kali, yang jumlahnya cukup lumayan. Dana itu digunakan untuk biaya sosialisasi dan gerakan demo yang menyudutkan Prof. Syahrin. Seperti yang diungkapkan salah seorang dari kelompok itu, bahwa Prof. Syahrin salah menduga siapa dalang di balik gerakan itu.

“ Kami dibiayai oknum yang pura-pura mendukung Prof. Syahrin. Dia berkali-kali ketemu dengan kami, “ kata sumber itu kepada Gardamedannews.com, beberapa waktu lalu. Dia juga menjelaskan, bahwa oknum yang berambisi menjadi Plt itu, juga bergrilya di pusat kekuasaan untuk mencari dukungan dan mempercepat turunnya Prof. Syahrin.

Benar memang apa yang dikatakan oknum tersebut. Setelah dislusuri, Gardamedannews.com menemukan fakta bahwa oknum-oknum di Jakarta mengakui kalau yang berambisi menjadi Plt itu kerap berkomunikasi dan meminta dukungan agar secepatnya bisa menjadi Plt Rektor UIN Sumut. Dia cukup semangat karena yang memberikan angin segar kepadanya adalah orang-orang yang berkaitan dengan Kementerian Agama.

Strategi baru pun disusun dari atas berdasarkan informasi yang diterima dari UIN Sumut. Mulai kasus Ma’had sampai issu-issu basi yang tak terbukti. Tujuannya, menekan Prof. Syahrin agar bertekuk lutut. Dan, sebisa mungkin memasukkan Prof. Syahrin dalam perangkap hukum. Kendati tak memiliki bukti yang kuat, yang penting koar-koarnya bisa memecah konsentrasi Prof. Syahrin.

Teranyar, dimunculkan issu bahwa Prof. Syahrin “mengeluarkan” energi untuk segera memasukkan mantan Rektor UIN Sumut, Prof. Saidurrahman, ke penjara. Issu ini bersumber dari oknum gila kekuasaan itu, yang menyebut dirinyalah yang membawa “upeti” untuk mempercepat Prof. Saidurrahman tidur di “hotel” prodeo.

Yang paling menyesakkan dada, sudah beredar di beberapa oknum tertentu susunan “kabinet” pejabat UIN Sumut, jika terjadi peralihan tugas dari Rektor ke Plt Rektor. Susunan kabinet itu hasil rembukan oknum-oknum yang ada di Medan dan Jakarta. Tragisnya, pembagian proyek pun sudah direncanakan secara matang. Mengerikan memang.

Di sisi lain, nasib tragis dialami Prof. Syahrin sendiri. Ketika Prof. Syahrin berusaha memperbaiki citra UIN Sumut dengan cara menggelontorkan operasional yang tak sedikit, justru dana itu digunakan untuk “melawan” dirinya sendiri. Kepercayaan yang diberikannya kepada orang-orang di sekelilingnya, dibalas dengan pengkhianatan yang menjijikkan. Bahkan, beberapa “sektor” di lingkungan UIN Sumut kini sudah terpengaruh dengan orasi yang dibangun oleh orang yang gila jabatan itu.

Sayang, Prof. Syahrin masih terbuai dengan “lagu” dan “wajah wakaf” sang gila jabatan itu. Seharusnya, Prof. Syahrin tak perlu segan-segan dan banyak pertimbangan untuk “menggusur” mental pejabat seperti ini. Sebab, prilaku seperti ini dapat menghancurkan seluruh sendi-sendi yang telah terbangun baik di UIN Sumut.

Sampai saat ini pun, teror gerakan senyap kelompok ini masih terus berjalan. Upaya mencari dukungan dan memperluas jaringan masih terus dilakukan. Dan, pada puncaknya nanti, gerakan ini akan makin membesar dan berakar. Targetnya, Prof. Syahrin tak boleh berkuasa lebih dari setahun. Tunggu tulisan berikutnya. Tar