Silih Tarigan: Maaf Pak WR! Mau “Pisah Ranjang” atau “Talak Tiga”

Gardamedannews.com- MEDAN- Siang itu, sinar mentari tak begitu garang. Redup. Angin sepoi-sepoi yang bertiup dari arah Selatan, sudah cukup menghilangkan gerah. Awan keputih-putihan beriringan secara perlahan mengitari bumi. Seakan tersenyum manis melihat kedai kopi Kak Noni yang tengah dibanjiri pelanggan.

Hanya ada sebuah meja yang tersisa. Persis di bagian belakang samping kanan kedai kopi Kak Noni. Dan, di situ, tampak Silih Tarigan sedang menyeruput sanger kopi kegemarannya. Sama persis dengan sangar mukanya.Di sela-sela jari tangan kanannya, terselip sebatang rokok putih yang baru diutangnya dari kedai Wak Faisal, tetangga sebelah rumahnya.

Entah apa topik ceritanya dengan si Riko dan Hasan, tiba-tiba Silih Tarigan tertawa girang. Usut punya usut, rupanya Silih Tarigan senang mendengar kabar pak Wisful Raharja atau yang kerap dipanggil Pak WR, sudah tak “berkuku” lagi. Pak WR yang menjabat Asisten III membidangi masalah karyawan di perusahaan Union International Network itu, sudah dipandang sebelah mata oleh Direktur Utama.

Hasan dan Riko pun ikut tertawa. Malah tertawanya lebih lebar. Maklum, keduanya sudah mendapatkan kopi susu plus dua buah risol gratis dari Silih Tarigan. Cerita pun berlanjut. Silih Tarigan bilang, kalau Pak WR itu kualat dengan Dirut. Sudah diberi jabatan enak, kok malah mau menikam dalam selimut. “ Macam kepinding pak WR itu, “ kata Silih Tarigan. Ketawa Riko dan Hasan pun bertambah lebar, karena risol gratis nambah lagi.

Silih Tarigan agak sedikit sensi derngan Pak WR ini. Masalahnya, ketika dia bergabung dengan Pak WR, dia tak difungsikan. Sampai akhirnya, Silih Tarigan “mundur” dari ruang Pak WR. Makanya, ketika mendengar rencana Pak WR mau “mengkudeta” Dirut gagal, Silih Tarigan pun ikut gembira. Apalagi, Dirut pun sudah mengetahui gerak-gerik Pak WR yang mencurigakan itu.

Berdasarkan laporan dari intel Rawa-rawa, kata Silih Tarigan, Dirut sudah tak mempercayai Pak WR lagi. Beberapa “pekerjaan” penting yang seharusnya menjadi tugas Pak WR, dialihkan Dirut ke orang lain. Otomatis Pak WR sekarang jadi penonton terbaik. Tapi, Pak WR tak putus asa. Dalam berbagai kesempatan, ia tetap berorasi bahwa dirinya tak bersalah dan tak ada niat merencanakan “kudeta”. Bahkan, dia berjanji akan mengawal Dirut sampai akhir masa jabatannya.

Namun, upaya dan usaha Pak WR itu akan sia-sia. Dirut sudah mengetahui semua sepak terjangnya. Dan, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memberikan kursi “empuk” di samping kantornya. Sulit bagi Pak WR untuk merebut kembali hati Dirut, walaupun dukun juga sudah dikerahkan. Apalagi beberapa unit kerja di perusahaan itu sudah meminta Dirut agar bertindak tegas dengan mengganti Pak WR.

Memang, kalau melirik sedikit ke belakang, Pak WR ini belum menunjukkan hasil kerja yang maksimal di bidangnya. Tengoklah, banyak karyawan yang gondok dengan kebijakan Pak WR. Perestasi karyawan tak ada yang menonjol. Kalau pun ada itu kerja keras individual, bukan karena upaya dan bimbingan dari Pak WR. Perestasi Pak WR yang menonjol adalah menghabiskan uang perjalanan dinas.

Hasan dan Riko bertambah semangat mendengar cerita Tarigan. Sebab, Tarigan sudah memesan rokok pada Kak Noni untuk Hasan dan Riko. Sebaliknya, Kak Noni yang kembut. Soalnya, utang Tarigan minggu lalu belum dibayar. Kalau sempat hari ini tidak bayar juga, bisa gawat Kak Noni.

Dalam kondisi seperti ini, Tarigan melanjutkan ocehannya, sebaiknya Pak WR mempergunakan pikiran dan hatinya. Jauh lebih baik dia mengundurkan diri dari jabatannya, biar nampak kesatria. Seperti prinsip orang Jepang: kalau gagal dalam tugas, lebih baik mundur daripada dipecat.

Kalau dianalogikan dalam sebuah rumah tangga, posisi Pak WR ini sudah “dijauhi” isteri. Nasi sudah tak dihidangkan, baju sudah tak dicucikan, dan senyum pun sudah tak diberikan. Ya, solusi terbaiknya adalah “pisah ranjang”, dalam artian mundur secara teratur. Daripada diminta menjatuhkan “talak tiga”. Artinya, jangan sampai dipecat. Kalau kata Gus Dur, “Gitu Aja Kok Repot”.

Karena matahari sudah mulai bersembunyi di ufuk, Kak Noni pun merapat ke meja Tarigan, sedikit nimbrung sambil menunggu bayaran dari Tarigan. Mengutip tokoh aktivis hak asasi manusia dan juru bicara Nation of Islam, Malcom X, Kak Noni bilang, “ Bagi saya, hal yang lebih buruk daripada kematian adalah pengkhianatan. Kamu tahu, saya bisa memahami kematian, tetapi saya tidak bisa membayangkan pengkhianatan.”

Wowww…keren, kata Tarigan. Sambil mengacungkan jempol, Tarigan memuji Kak Noni. Lalu, ia berdiri dan permisi mau ke toilet sebentar. Tapi, rupanya Tarigan keliling dari belakang sambil mengendarai sepeda motor reotnya. Akhirnya, Hasan, Riko dan Kak Noni saling pandang-pandangan melihat Tarigan kabur meninggalkan utang. Amangoiii. Tar