Silih Tarigan: Selain Hobi Korup, Pak WR Juga Doyan Seks

Gardamedannews.com- MEDAN- Sore itu, warung kopi Kak Noni tampak ramai. Pelanggan setia sudah hadir semua. Hanya tinggal sebuah meja yang masih nampak kosong. Persis di bawah pohon seri. Meja itu, “milik” Silih Tarigan, pelanggan yang kerap ngutang. Sudah beberapa hari Silih Tarigan tak datang. Menurut intel “rawa-rawa”, Silih Tarigan sakit. Badannya pegal-pegal, perutnya mulas. Mungkin karena sering makan mangga tetangga, tetapi tak permisi.

Eh..tiba-tiba Silih Tarigan muncul dengan wajah ceria dan rambut klimis. Kak Noni pun menyambutnya dengan senyumnya yang menggoda. Dengan harapan, hari ini Silih Tarigan akan membayar utang. Setelah berbincang sebentar dengan Kak Noni, Silih Tarigan pun duduk di meja di bawah pohon seri. Dan, seperti yang telah diduga, tak berapa lama kemudian, nongol pula Hasan Bedogol, karib Silih Tarigan.

Hasan dan Tarigan tampak berbincang dan tertawa ringan. Keduanya memesan kopi sanger dan risol. Kepada Hasan, Tarigan berpesan agar makan risolnya santai saja. Cukup satu dulu. Sementara di meja lainnya para pelanggan sibuk berbincang tentang covid-19 dan vaksin gratis. Ada pula yang membahas tentang suksesi presiden 2024. Macam-macamlah.

“ San, aku nggak tertarik cerita tentang covid”, kata Tarigan memulai cerita. “ Oh, gitu ya bang, “ balas Hasan. Menurut Tarigan, ia lebih suka cerita tentang Pak Wisful Raharja alias Pak WR, asisten III di PT. Union International Network. Sebenarnya, kata Tarigan, Pak WR ini orangnya korup. Mendengar itu, Hasan Bedogol terkejut. Tapi, tangan kanannya cepat menyambar risol yang tinggal satu lagi di atas piring. Tarigan pun melotot ke arah Hasan.

Dulu, kata Silih Tarigan, sebelum dia jadi Asisten III, dia pernah terlibat kasus penipuan. Ceritanya begini. Waktu itu, ada seorang yang ingin melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran USU. Lalu, dia minta tolong kepada Pak WR dan rekan-rekannya untuk membantunya masuk ke USU. Lalu, Pak WR pun mematok “harga” Rp.300 juta. Uang itu mereka bagi-bagi. Bahkan ada pula yang sudah membeli mobil. Nyatanya, calon mahasiswa itu tak lulus, sedangkan uangnya sudah disikat Pak WR. “ Kemungkinan besar uang itu dipergunakannya untuk menggoda janda, tetangga sebelah, “ jelas Tarigan.

Kemudian, Tarigan melanjutkan cerita, baru-baru ini Pak WR juga bertindak sebagai calo penerimaan mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi Islam. Pak WR “mengutip” dana Rp. 2 juta per mahasiswa. Konon, kabarnya ada sekitar 280 mahasiswa baru yang menjadi “pasiennya”. Memang, tak semuanya lulus. Tapi, besar jugalah “penghasilannya” jadi calo mahasiswa itu.

Selain itu San, papar Tarigan, Pak WR ini memanmg keterlaluan. Bayangkan, kepada Pak Dirut PT Union International Network, dia meminta uang operasional sebesar Rp.100 juta. Alasannya untuk mengamankan media. Padahal setelah dicek ke media yang diamaksud, ternyata Pak WR hanya membayar makan siang di sebuah restoran. Dan, sang pemilik media bersumpah tidak pernah menerima apapun dari Pak WR. Pak Dirut ditipu mentah-mentah oleh Pak WR.

Kalau di lingkungan tempatnya bekerja, Pak WR sudah cukup dikenal tukang korup. Setiap kegiatan yang Pak WR terlibat di dalamnya, pasti terjadi markup dana. Seperti kegiatan olahraga di Padang, Sumatera Barat, Pak WR jadi sorotan karena memarkup dana cukup besar. Belum lagi, pengutipan dana beasiswa. Bagi yang ingin menerima beasiswa, harus “setor” ke Pak WR. Pokoknya, setiap ada kesempatan dan event, pasti dimanfaatkan Pak WR untuk meraup keuntungan.

Karena melihat Silih Tarigan cukup tegang dan tak pernah tersenyum, Kak Noni pun memandang wajah Silih Tarigan sambil tersenyum. Silih Tarigan pun membalas senyum Kak Noni. Suasana agak tenang sedikit. Hasan pun mengambil kesempatan untuk meminta risol satu lagi. Sebelum beranjak, Kak Noni  bilang, mengutip Sujiwo Tejo,  “Korupsi lebih atau setidaknya sama saja dengan membakar kitab suci, yaitu menghina esensi kitab suci. Tak ada ajaran maupun agama yang tak mengharamkan korupsi.”

 Ya, betul itu, kata Tarigan. Namun, di mata Pak WR, korupsi itu bukan larangan, tapi justru sebagai “pekerjaan” yang harus mendapat upah. Padahal, kalau dari segi agama, Pak WR paling tahu tentang hukum korupsi. Namun, karena kedudukan yang memberikan kesempatannya untuk korupsi, dia lupa hukum agama.

Tapi San, sambung Tarigan, Pak WR itu tak hanya hobby korup, dia juga doyan seks. Contohnya, dia berhasil menggaet dua janda, Neng Gelis dan Mbak Salima. Untuk cerita yang ini, besok kita sambung lagi. “ Besok kita cerita lagi San tentang Neng Gelis dan Mbak Salima, “ ujar Tarigan, sambil buru-buru pergi dan tak membayar uang kopi. Tar