Silih Tarigan: Gara-gara Neng Gelis, Pak WR Pisah Ranjang

Gardamedannews.com- MEDAN- Entah angin apa yang membawa Hasan Bedogol. Tiba-tiba ia sudah hadir lebih awal di warung kopi Kak Noni. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 14.00 Wib. Ia duduk santai di meja “milik” Silih Tarigan, di bawah pohon seri. Kemungkinan besar ia penasaran dengan cerita Silih Tarigan tentang Pak Wisful Raharja alias Pak WR, asisten III di PT Union Internasional Network, yang berhasil “meninabobokkan” dua janda, Neng Gelis dan Mbak Salima.

Dalam hati, Hasan Bedogol bertanya-tanya. “ Kok bisa ya Pak WR menggondol dua janda”, begitulah kecamuk hati Hasan. Padahal, gumamnya, Pak WR itu dari segi penampilan fisik, tak menarik. Tubuhnya bongsor, roman mukanya tak enak dipandang. Bisa jadi, disebabkan karena Pak WR pandai menggoda, atau karena banyak uang dari hasil korupsinya. Pokoknya Hasan Bedogol betul-betul ingin mendengar cerita dari karibnya, Silih Tarigan, yang tukang ngutang kopi itu.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Hanya 15 menit menunggu, Silih Tarigan pun muncul. Hari ini penampilannya agak beda. Pakai baju batik berwarna hitam, dan sepatu yang mengkilat. Tapi rambutnya acak-acakan. Persis kayak Pak Lurah yang baru diperiksa Kejaksaan karena kasus korupsi dana desa. Dengan penampilan seperti itu, Kak Noni agak sungkan menyapa Silih Tarigan. Begitu pun, Kak Noni tetap melempar senyumnya yang menggoda.

“ Bang, hari ini  aku cepat datang. Penasaran aku dengan cerita abang semalam tentang Pak WR”, cetus Hasan Bedogol membuka cerita sambil menyantap risol. “ Oh gitu. Tapi kok cepat kali kau udah makan dua risol. Pelanlah coy, “ balas Silih Tarigan. “ Aku tadi baru ngomong-ngomong dengan korban yang setor Rp.300 juta pada Pak WR, tapi tak jebol masuk Fakultas Kedokteran USU, “ tambah Tarigan.

Kalau soal Pak WR, ceritanya begini. Dulu, sebelum Pak WR diangkat menjadi Asisten III di PT Union Internasional Network, Pak WR terpilih menjadi Ketua di salah satu organisasi kemasyarakatan. Lalu, Pak WR pun kenal dengan seorang janda yang berperawakan sedikit gemuk, sebutlah namanya Neng Gelis. Neng Gelis bukan janda sembarangan, tapi janda berpenghasilan.

Dalam setiap kegiatan organisasi, Pak WR selalu berdekatan dengan Neng Gelis. Pergi berdua dan makan berdua. Bahkan, Pak WR nampak lebih genit bila di samping Neng Gelis. Berbanding terbalik dengan penampilan kesehariannya yang selalu jaga imej dan sok alim. Karena sudah dimabuk asmara, Pak WR tak perduli lagi kalau orang-orang di sekelilingnya memperhatikan gerak-geriknya.

Pernah suatu ketika Pak WR membawa Neng Gelis ke Jakarta dalam satu acara organisasi. Hari pertama, Pak WR dan Neng Gelis masih nampak di arena acara. Tapi, hari-hari selanjutnya Pak WR dan Neng Gelis menghilang entah kemana. Tak ada yang tahu. Yang pasti, mereka berdua tak mungkin main catur.

Asmara hitam itu terus berlanjut. Suatu hari, ketika Neng Gelis ulang tahun, Pak WR mengecup mesra kening Neng Gelis di depan beberapa temannya. Tanpa sadar adegan Pak WR itu terekam kamera Ponsel, yang beredar di kalangan tertentu. Dan, ini menjadi malapetakan untuk Pak WR. Masalahnya, isteri Pak WR sempat melihat adegan mesra itu melalui rekaman video.

Cekcok rumah tangga tak terelakkan. Akhirnya Pak WR dihukum tidak boleh tidur seranjang dengan isterinya. Dan, hukuman itu berlaku sampai sekarang. Bagi Pak WR, hukuman ini tidak menjadi masalah, tokh serap masih ada. Namun, bagi sang isteri, ini tentu menyakitkan karena harus kehilangan kemesraan gara-gara pihak ketiga. Neng kejam deh.

Dasar Pak WR tak bermoral. Kendati isteri sudah marah, ia tetap saja melanjutkan asmara hitamnya dengan Neng Gelis. Malah, menurut temannya sendiri, Pak WR dan Neng Gelis sudah nikah siri. Sejak diangkat menjadi Asisten III, Pak WR jaga wibawa. Pertemuannya dengan Neng Gelis di muka publik pun agak dikurangi.

Tapi, ternyata Pak WR ini ingin menunjukkan pejantan tangguh. Tak cukup hanya Neng Gelis yang jadi korbannya. Bulan Ramadhan lalu, Pak WR diam-diam buka puasa bersama dengan Mbak Salima yang sudah dikenalnya sejak lama. Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK). Cerita Mbak Salima terputus, karena tiba-tiba Kak Noni datang.

Aku hanya ingin mengingatkan kata-kata Sarah Moore. “Remember the unkindness, dishonesty, and deception you display toward others…don’t be shocked when it comes back to bite you.” (Ingatlah bahwa ketidakbaikan, ketidakjujuran dan penipuan artinya menunjukan dirimu sendiri di hadapan orang lain. Jangan kaget jika suatu saat nanti, itu akan berbalik terjadi pada dirimu sendiri).

Dan, dalam sebuah ungkapan lain,  “Aku baru tahu bahwa kamu menyelingkuhiku. Aku sarankan kamu pergi ke Sekolah Pelatihan Anjing. Semoga kamu akan belajar di sana nilai sejati dari kesetiaan.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Kak Noni pun pergi. Sekitar 20 meter dari warung Kak Noni ada kecelakaan. Silih Tarigan pun bergegas melihat kejadian itu, dan langsung cabut pulang. Kak Noni pun jadi korban utang lagi. Sebelumnya, Silih Tarigan sempat berbisik pada Hasan Bedogol, “ San, cerita tentang Mbak Salima, kita sambung besok ya, “. Tar