Hasan Badogol: Biadab! Pak WR Jual-jual Nama Komisi VIII untuk Korup dan Jabatan

Gardamedannews.com- MEDAN-Warung kopi Kak Noni, tampak meriah. Semua pengunjung terbahak-bahak, dengan tema cerita yang berbeda-beda. Ada cerita tentang demo bayaran yang tak membuahkan hasil. Dan, ada pula yang nyerocos karena lembunya yang bunting, tapi tak kunjung melahirkan. Pokoknya, senyum manis Kak Noni makin menggoda, karena keuntungan hari ini bisa membeli sandal tumit tingginya yang sudah patah.

Di meja di bawah pohon Seri, juga tak kalah seru. Tawa melengking Riko Latteung dan Hasan Badogol menambah riuh suasana. Cerita Hasan Badogol dan Riko sudah pasti bisa ditebak. Mereka berkisah tentang Pak Wisful Raharja atau Pak WR, Asisten III di PT Union International Network, yang dungu, korup dan doyan seks itu. Belakangan, gelar Pak WR bertambah lagi, yaitu, dalang demo.

Soal dalang demo itu, menurut Hasan Badogol, Pak WR sudah mulai terang-terangan “menantang” Pak Dirut. Pak WR memerintahkan “peliharaannya” terjun langsung mendemo agar Pak Dirut mundur. Sehari sebelum demo, Pak WR juga memerintahkan satu lagi peliharaannya untuk menemui Pak Dirut. Tapi, ternyata ini hanya siasat Pak WR untuk mempermainkan dan mempermalukan Pak Dirut. Buktinya, Pak WR membiarkan Pak Dirut menunggu di tempat yang telah dijanjikan berjam-jam. Sementara, Pak WR tertawa-tawa di sebuah kafe di dekat rumahnya. Mantaaappp…Pak WR tertawa sendiri.

Setelah melahap dua buah Risol sekaligus sampai mulutnya penuh, Hasan Badogol melanjutkan ceritanya tentang “jualan” Pak WR. Riko Latteung hanya bisa melongo karena tak kebagian Risol. “ Mak jang, gawat bah, sekali telan, dua risol lenyap, “ gumam Riko Latteung. Ia pun tak mau kalah. Dengan gerakan kilat, Riko Latteung cepat-cepat menyambar sebatang rokok yang ada di depannya, yang memang tinggal sebatang lagi.

Hasan Badogol pun berkisah. Kata Hasan Badogol, beberapa minggu lalu, Pak WR menjual-jual nama anggota Komisi VIII untuk melancarkan aksi korupnya. Ceritanya begini. Waktu itu, perusahaan Pak WR mendapat jatah bantuan untuk sekitar 500 karyawan. Semacam beasiswa, begitulah. Mengetahui itu, Pak WR berfikir bahwa ini kesempatan baik untuk meraup keuntungan.

Lalu, Pak WR pasang ancang-ancang. Kepada seluruh kepala unit kerja, Pak WR memberitahu bahwa 200 orang yang mendapat bantuan adalah jatah anggota Komisi VIII. Jadi, kepada semua Kepala Unit kerja wajib memasukkan nama-nama yang sudah ditentukan Pak WR. Tapi, kepada 200 orang pekerja itu, Pak WR sudah mewanti-wanti, kalau bantuan yang rencananya sebesar Rp.6 juta lebih/orang per enam bulan itu, bantuan semester pertama harus diserahkan seluruhnya kepada Pak WR. Bayangkan, berapa banyak uang korupsi yang akan diterima Pak WR.

Celakanya, setelah dikonfirmasi kepada anggota Komisi VIII, ternyata anggota Komuisi VIII tak pernah memerintahkan seperti itu. Artinya, jatah untuk komisi VIII itu tidak benar. Dan, itu hanya siasat licik Pak WR menjual-jual nama anggota Komisi VIII untuk melancarkan aksi korupnya. Anggota Komisi VIII marah besar dengan sikap pak Pak WR itu. Karena memang, melihat sikapnya selama ini, anggota Komisi VIII itu tak mungkin mau melakukan hal jahat, seperti jahatnya kelakukan Pak WR itu. “Biadab itu. Manusia tak terpakai itu”, kata anggota Komisi VIII tersebut.

Dasar otak licik, ternyata Pak WR tak puas hanya menjual-jual nama Komisi VIII untuk kepentingan korup. Seminggu lalu, Pak WR juga menyebarluaskan bahwa anggota Komisi VIII mendukungnya untuk menjadi Pelakasana Tugas (Plt) Dirut. Bahkan, Pak WR juga mengatakan bahwa demo-demo menyerang Pak Dirut, karena anjuran anggota Komisi VIII untuk mempercepat jatuhnya Pak Dirut. Pak WR ini memang terlalu ambisius, sehingga bertindak tak tahu malu. Tak bermoral.

Mungkin, karena melihat Pak WR yang gila jabatan itu, banyak kalangan meminta Pak Dirut segera mendepak Pak WR dari jabatannya. Saat ini, Pak Dirut bukan hanya memelihara anak harimau, tapi juga anak setan. Pak Dirut harus tegas dan harus menunjukkan sikap terhadap anak setan tersebut. Sebab, jika anak setan dibiarkan bebas, dia akan menguasai semua sendi-sendi kehidupan.

Setelah mendengar kisah Hasan Badogol, Kak Noni pun tak mau ketinggalan. Bagaikan seorang orator, Kak Noni ngomong, “ Pantun hangoluan, teas hamatean. Suan Tobu di bibir dohot di ate-ate. Bahat disabur sabi, anso adong salongon, “ (Untuk hidup bahagia harus menjaga sopann pantun. Manis bukan hanya di mulut, tapi juga harus di hati. Kalau kita banyak menanam, tentu akan banyak menerima hasilnya, “

Hasan Badogol dan Riko Latteung tertegun mendengar pepatah dari tanah Mandailing itu. Dalam hatinya, Hasan Badogol meminta agar Pak WR menerapkan pepatah itu dalam hidupnya, biar dia jangan jadi manusia rakus dan tak tau berterima kasih. Ya…dasar Badogol, pura-pura tertegun, ujung-ujungnya ngopi utang juga. Amangoiiiii. Tar