Mensyiarkan Alquran Via MTQ

Oleh: Watni Marpaung

(Dosen di UIN Sumatera Utara)

Gardamedannews.com-MEDAN-Alquran dalam fungsinya sebagai petunjuk (hudan) harus diterjemahkan dalam kehidupan manusia. Jaminan keselamatan dan kebahagian adalah garansi mutlak bagi siapa pun yang mengikuti dan mengamalkannya. Tentu doktrin ini akan selalu dilestarikan oleh umat Islam dengan berbagai cara yang tujuannya untuk mengeksiskan Alquran sepanjang zaman. Dari berbagai cara yang dilakukan setidaknya Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) baik mulai tingkat kecamatan sampai internasional adalah salah satu altenatif memasyarakatkan Alquran.

Dalam kaitan ini, merupakan suatu kebanggaan bagi masyarakat Sumatera Utara yang menyelenggarakan MTQ ke-38 yang berlangsung di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara dari tanggal 20 s/d 28 Maret 2022. Acara MTQ tersebut diharapkan adalah untuk dapat kembali mensosialisasikan dan mensyi’arkan Alquran kepada seluruh lapisan masyarakat yang sudah banyak tidak perduli dengan pedoman hidupnya sendiri.

Bahkan, di era modern dewasa ini terjadi pergeseran nilai-nilai yang dianut umat Islam. Semangat untuk menjadikan Alquran acuan hidupnya mulai redup untuk tidak mengatakan hilang dengan hantaman peradaban global yang menyeret umat Islam hampir pada seluruh lapisan tidak simpati terhadap Alquran. Hal ini diindikasikan dengan banyaknya umat Islam tidak pandai membaca Alquran padahal tempat untuk belajar atau media dan fasilitas serba lengkap untuk bisa mengetahui Alquran.

Jejak Rekam MTQ

MTQ secara sederhana dimaknai dengan kegiatan perlombaan Alquran dengan berbagai macam jenis yang diperlombakan. MTQ pertama kali diadakan adalah di Asahan Sumatera Utara yang diprakarsai oleh M. Ali Umar  pada hari selasa tanggal 12 Februari tahun 1946 tepatnya di desa Pondok Bungur atau disebut juga Pondok Bunga (Sejarah MTQ: 1989).

Menarik untuk membaca sejarah pembentukan MTQ pertama kali yang sarat dengan penolakan dari guru-guru agama pada saat itu. Alasan mereka adalah karena Alquran ayat Alquran tidak boleh diperjual belikan dan tidak pernah dilakukan pada masa Nabi Muhammad Saw maka hukumnya haram. Padahal, tujuan utama M. Ali Umar adalah untuk membangkitkan gairah dan semangat umat Islam berpegang teguh terhadap Alquran yang pada saat itu sudah mulai memudar.

Terlebih lagi, dalam kondisi sedang dikuasai dan dijajah Jepang sehingga perlu untuk istiqamah terhadap Alquran. Terlebih lagi, dengan memberikan hadiah bagi setiap pemenang yang hukumnya sama dengan judi. Reaksi ini akhirnya mempunyai pengaruh kepada orang tua untuk tidak mengikutsertakan anak-anaknya.

Maka solusi yang dilakukan M. Ali Umar adalah dengan mengundang ulama yang masyhur pada saat itu dari Tanjung Balai untuk meminta fatwa supaya tidak menggelisahkan masyarakat atas acara tersebut yang tidak disetujui para guru agama.  Para ulama yang diundang tersebut adalah Syaikh H. Tahir Abdullah, Syaikh Ismail Abdul Wahab yang syahid di tembak penjajah di penjara Pulau Simardan, dan Syaikh H. Ahmad Dahlan.

Namun, setelah para ulama tersebut menjelaskan bahwa apabila Alquran diperlombakan dengan tujuan menggairahkan membaca dan menghayati Alquran karean Allah semata-mata, maka hukumnya sunat, yaitu berpahala dikerjakan. Tetapi, apabila Alquran itu diperlombakan sebagai alat untuk mencapai tujuan keduniaan dengan riya maka hukumnya haram.

Untuk selanjutnya, MTQ pun digelar pada tingkat provinsi yang digagas oleh Syaikh H. Abdul Halim Hasan di Binjai pada tahun 1951 di halaman Masjid Raya Binjai.

Peserta yang ikut mengambil sebanyak 15 orang qori dari berbagai daerah, termasuk di antaranya H. Azra’i Abd Rauf dari Medan, H. Usman Fattah dari Binjai, Musa Tambi dari Asahan. Bahkan, diperkirakan bahwa MTQ tingkat provinsi Sumatera Utara ini yang pertama kali dan pada tingkat nasional.

Setidaknya, dari dua peristiwa MTQ di atas, dapat disimpulkan bahwa Sumatera Utara dapat dikatakan pencetus pertama pelaksanaan MTQ yang dalam MTQ kali ini diadakan di Tanjung Balai merupakan tempat yang berdekatan dengan pelaksanaan MTQ pertama. Bahkan, dapat dikatakan bahwa juri dan dewan hakim pertama adalah ketiga ulama dari Tanjung Balai.

Syi’ar Alquran

 Di era modern ini, menyandingkan kalimat umat Islam dan Alquran hampir dapat dikatakan hanya sebagai “isapan jempol”. Hal ini dikarenakan umat Islam yang seyogianya sebagai cerminan dari seluruh isi Alquran tidak lagi terealisasi. Alquran tidak lagi hidup dan mewarnai kehidupan umat Islam yang hampir dapat dikatakan sudah jauh dari tuntunan Alquran itu sendiri. Jangankan untuk mengamalkannya dengan benar dan komitmen, dalam membacanya saja ada yang tidak mampu. Sungguh ironis, dalam era yang serba canggih alat berupa CD, kaset yang dapat dijadikan media mendalami Alquran namun tidak mengubah cara pandang masyarakat terhadap Alquran.

Sangat berbeda sekali kondisi faktual pada saat Alquran diturunkan pada generasi pertama umat Islam yang sungguh-sungguh mengamalkan Alquran tanpa memilih dan memilahnya. Sehingga dalam sejarah generasi gold age umat Islam adalah mereka yang konsisten dan mengembangkan Alquran sebagai guiding mereka dalam hidup.

Dalam hal inilah acara-acara MTQ, baik pada tingkat kabupaten, provinsi, nasional, maupun internasional sebagai media yang strategis untuk kembali menghidupkan sekaligus memasyarakatkan Alquran dalam pengertian mengenalkan sekaligus menumbuhkan kecintaan umat Islam terhadapa Alquran.

Hal ini diindikasikan dengan beragam cabang dan jenis perlombaan yang diperlombakan dalam MTQ seperti , qira’ah Alquran (membaca Alquran dengan berbagai macam jenis bacaan yang sudah ditetapkan), fahmil qur’an (dalam konteks memahami Alquran, syarhil qur’an (mensyarahkan isi Alquran), hifz Alquran (menghapal Alquran), khath Alquran (seni kaligrafi tulisan Alquran), dan dengan cabang yang terbaru makalah Alquran, hadis dan lain sebagainya.

Dari berbagai jenis perlombaan tersebut setidaknya MTQ memberikan beberapa manfaat terhadap mensyi’arkan Alquran, yaitu: Pertama, mengenalkan kembali Alquran kepada seluruh masyarakat terhadap Alquran untuk diposisikan sebagai pedoman dalam kehidupan tidak saja secara konvensional dalam bacaan, tetapi harus dipahami, disyarahkan dan didakwahkan dan lebih khusus untuk diaplikasikan dalam kehidupan.   Kedua, dengan MTQ diharapkan muncul gairah dan semangat masyarakat untuk  menjadikan Alquran sebgaai pedoman sampai pada pembentukan diri, keluarga dan sosial sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran.  Ketiga, terciptanya regenerasi qur’ani dalam pengertian bahwa setiap generasi muda yang ikut serta dalam seluruh jenis perlombaan merupakan generasi yang diharapkan dapat terus eksis untuk mendalami dan mengamalknnya.

Penutup

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) seyogianya dipahami sebagai sebuah media untuk menumbuhkan kembali semangat umat Islam untuk  mencintai Alquran dalam arti sesungguhnya. Dengan demikian, diharapkan Alquran dapat mewarnai kehidupan umat Islam di tengah-tengah pertarungan global yang selalu membuat manusia lupa terhadap agamanya. Maka momemtum MTQ Provinsi Sumatera Utara suatu hal yang mesti diberikan apresiasi dan didukung seluruh pihak dalam mensukseskan syi’ar Alquran. ***