Filsafat Ibadah Puasa: Dari Penyucian Diri Menuju Kebersamaan dan Persataun

Oeh: Dr. Solahuddin Harahap, MA

( Ketua DPP Gerakan Dakwah Kerukunan dan Kebangsaan)

Filsafat Ibadah Puasa: Dari Penyucian Diri Menuju Kebersamaan dan Persataun

Gardamedeannews.com- MEDAN-Penting mendudukkan kembali bahwa Puasa Ramadhan adalah ‘Paket Ibadah Satu Bulan’, sehingga setiap aktivitas yang dilakukan selama Ramadhan dapat dilihat sebagai bagian dari paket ibadah yang mesti dilaksanakan dalam rangka pemenuhan persyaratan untuk mencapai Ulitame Goal ibadah tersebut (la’allakum tattaqún). Dalam bahasa lain, semua aktivitas dalam bulan Ramadhan wajib bernilai ibadah dan hanya dengan itu sajalah harapan untuk menggapai takwa akan memungkinkan terwujud.

Kata lain dari ‘Paket Ibadah Satu Bulan’ adalah ‘Suluk Ramadhān’ yakni jalan yang barus dilalui seorang hamba untuk menuju martabat takwa dalam jangka waktu satu bulan yakni selama Ramadhan. Secara garis besar, suluk ini dapat dibagi kepada empat (4) tahapan atau maqāmāt sebagai berikut: Pertama, Tahap Persiapan yang terdiri dari pengokohan niat dan penyiapan jasmani, nalar, dan ruhani. Kedua, Tahap Pelembutan Hati dengan memperbanyak silaturrahim, berbagi, memberi, serta membangun kepedulian. Pada tahapan ini seorang Sālik atau al-Shāim telah mendapat support dari langit  berupa pemberian rahmat dan kasih  yang amat luas dari Allah Ta’āla.

Ketiga, Tahap Penyucian Diri (tazkiyatunnafs) atau pencapaian Fitrah (‘īdul al-fithrī) dimana seorang Sālik harus memperbanyak meminta maaf, memberi maaf, meminta ampunan, memberi pertolongan dan shadaqah. Pada tahap ini seorang Sālik akan difasilitasi Allah Swt dengan membuka pintu lebar-lebar pintu ampunan dan taubat serta menganugerahkan pembesan dari siksa. Keempat, Tahap Bertemu Tuhan (Mi’rāj) dimana Allah Swt mengangkat seorang Sālik untuk menjadi ‘al-Muttaqi’ yakni martabat hamba paling dekat dari Allah Swt secara eksiatensial.

Seperti ibadah lainnya, maka setiap tahapan (al-maqām) pada suluk Ramadhan ini semisal Penyucian Diri  (Tazkiyatunnafs) telah memiliki dua target sekaligus yakni secara vsrtikal untuk meretas penghalang dari bertemu Allah Swt, sedangkan secara horizontal untuk meretas setiap penghalang dari kebersamaan, keguyuban, dan kebersatauan yang dilandasi oleh kasih sayang dan keimanan.

PENYUCIAN DIRI UNTUK KEBERSAMAAN DAN PERSATUAN KITA

Salah satu topik yang amat penting untuk dipahami pada kajian Teologi Islam adalah Konsep Tauhid. Secara umum Tauhid atau ber-Tauhid dapat dimaknai sebagai upaya seorang hamba untuk memahami dan meyakini secara jasmani, nalar, dan ruhani akan Keesaan Allah Swt, seterusnya terhadap keterpautan (kebersamaan) seorang hamba dengan Allah Swt. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa pada dasarnya Allah Swt senantiasa bersama dengan hamba-Nya, namun fakta kebersamaan ini kerap kurang atau bahkan tidak dapat disadari oleh manusia baik secara jasmani, nalar, maupun secara ruhani disebabkan oleh sejumlah faktor.

Dalam konteks Ibadah, faktor-faktor yang menyebabkan hilangnya kesadaran akan kebersamaan dengan Allah Swt dari seorang hamba telah disebut sebagai dosa, maksiat, atau amal buruk, amal yang rusak, atau amal yamg kotor. Dengan begitu, maka upaya meretas faktor-faktor tersebut dari diri seorang hamba dapat disebut sebagai usaha penyucian diri (tazkiyyatun nafs). Agaknya perlu memberikan makna yang lebih sederhana terhadap kerja-kerja penyucian diri (tazkiyyatunnafs) ini agar lebih mudah dapat dipahami dan dilakoni.

Sebab, harus dipahami bahwa Penyucian Diri (tazkiyyatunafs) ini sendiri merupakan salah satu tugas utama bagi seorang hamba. Bahkan, tidak lah berlebihan jika kita sebut bahwa keberadaan seorang hamba sangat ditentukan oleh usahanya dalam menyucikan diri (qad aflaha man tazakkā- qad aflaha man zakkāhā). Usaha-usaha penyucian diri ini dapat dilakukan lewat sejumlah metode dari yang paling sederhana hingga yang paling  sulit. Lebih jauh, kerja-kerja penyucian diri ini dapat dilakukan lewat dua jalur yakni (1) vertika dan (2) horizontal.

Secara vertikal, usaha-usaha ini dapat melalui memperbanyak shalat, shalawat, istighfar, tasbih,  dan do’a mohon agar disucikan. Dalam salah satu riwayat telah diperoleh bahwa Rasulullah Saw kerap sekali membaca do’a mohon disusikan diri sebavai berikut: “Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwaku ketakwaan, dan sucikanlah jiwaku (dengan ketakwaan itu), Engkau-lah Sebaik-baik Yang Mensucikannya, (dan) Engkau-lah Yang Menjaga serta Melindunginya]” (HSR. Muslim dalam Shahih Muslim no. 2722).

Perlu ditegaskan disini bahwa, setiap orang harus meyakini bahwa usaha penyucian diri ini adalah indikator kinerja utama sebagai seorang hamba. Bahkan hal ini dapat dilihat sebagai target antara yang sangat strategis bagi setiap ibadah yang disyari’atkan termasuk Puasa Ramadhan ini. Lewat usaha-usaha penyucian diri secara vertikal inilah seseorang akan dapat meretas segala penghalang bagi kebersamaannya dengan Allah Swt.

Adapun secara horizontal, usaha-usaha penyucian diri ini dapat dilakukan lewat berbagai cara dan kegiatan. Mudah memaafkan dan siap meminta maaf kepada sesama merupakan salah satu cara menyucikan diri. Rasulullah Saw mengatakan “Maafkan lah sesama  niscaya engkau akan dimaafkan oleh Allah” H.R. al-Thabrani. Selain dengan memberi dan meminta maaf, membayar zakat atas harta juga merupakan salah satu cara menyucikan diri. Lebih jauh, memperbanyak infaq, shadaqah, dan berbagi ilmu, semangat, kebahagiaan, dan berbagi informasi juga dapat dilihat sebagai upaya menyucikan diri.

Bahkan, memperbanyak menolong orang, berusaha memahami orang lain, serta komitmen untuk selalu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berubah dan memperbaiki diri juga merupakan bagian dari upaya memyucikan diri. Dalam suatu riwayat ketika Aisyah Ra ditanya trntang akhlak Rasulullah SAW, maka dia menjawab, “Beliau tidak pernah berbuat jahat, tidak berbuat keji, tidak meludah di tempat keramaian, dan tidak membalas kejelekan dengan kejelekan. Melainkan beliau selalu memaafkan dan memaklumi kesalahan orang lain,” (HR Ibnu Hibban).

Dalam konteks yang lebih sosiologis, sikap rela membangun kerjasama, membangun kemitraan, membangun team work, berorganisasi, bergotong royong dan saling menolong, dan bahkan toleransi serta saling menghargai telah dapat dilihat sebagai bagian dari upaya menyucikan diri secara horizontal. Jika penycian diri secara vertikal ditujukan untuk mendekatkan diri dan mencapai kebersamaan dengan Allah Swt, maka kerja-kerja menyucikan diri secara horizontal ditujukan untuk terbangunnya kebersamaan dan persatuan di tengah-tengah hidup bermasyarakat dan berbangsa.

PENUTUP

Adalah benar bahwa tujuan akhir dari pelaksanaan Paket Ibadah Ramadhan agar seseorang dapat menggapai derajat takwa. Sementara itu, perolehan takwa sendiri hanya akan diperoleh seseorang ketika ia dapat menyucikan dirinya di hadapan Allah Swt dan di hadapan sesama. Karena itu lah, maka upaya menyucikan diri mesti ditempatkan sebagai tujuan antara bagi seorang Sālik Ramadhan yang mesti digapainya sebagai syarat mutlak untuk dapat memperoleh tujuan akhir yakni takwa. Begitu pun, ketika takwa dalam konteks horizontal adalah berupa pengejawantahan dari sikap keteladanan, kemartabatan, kebersamaan,  persatuan dan kemuliaan, maka keberadaan usaha-usaha penyucian diri secara horizontal semisal saling memaafkan, saling berbagi, dan saling peduli, mesti dilihat sebagai suatu keniscayaan. Wallāhu A’lam.