Filsafat Hidup: Dari Ibadah Ramadhan Menuju Resolusi Tahunan Kehidupan

Oleh: Dr. Solahuddin Harahap, MA

( Ketua DPP Gerakan Dakwah Kerukunan dan Kebangsaan)

 Gardamedannews.com- MEDAN-Melakukan resolusi dapat dilihat sebagai sesuatu yang niscaya dilakukan setiap orang terutama bagi seorang muslim. Disebut demikian karena ada suatu organ dalam diri kita yang memiliki sifat elastis, dinamis, bahkan pluktuatif dan disebut “al-qalbu”. Rasulullah Muhammad Saw bersabda bahwa: “Dinamakan hati karena perubahannya. Sesungguhnya perumpamaan hati itu laksana bulu yang tertempel di pangkal pohon yang diubah oleh hembusan angin sehingga terbalik. “(HR. Ahmad).

Organ bernama “al-Qalbu” ini sangat menentukan substansi dan orientasi kehidupan kita karena pada organ tersebut telah dipertemukan tiga dimensi diri kita yakni dimensi badan, dimensi indra, dan dimensi jiwa (nafs).  Rasulullah Muhammad Saw bersabda : “Ketahuilah (ingatlah), sesungguhnya di dalam tubuh ini ada segumpal daging. Jika ia baik maka seluruh tubuh baik . Jika ia rusak maka seluruh tubuh rusak pula. Ketahuilah ia adalah hati.” (HR. Bukhari Muslim). Atas posisi sentral “al-Qalbu” ini dalam diri lah, maka setiap orang perlu melakukan resolusi dalam artian melakukan reorientasi atau rekomitmen terhadap penetapan substansi dan tujuan kehidupan.

Resolusi ini perlu dilakukan secara periodik dan terus menerus, mengingat bahwa qalbu tersebut memiliki karakter dinamis bahkan astis sehingga sarat akan perubahan dan dinamika. Tidak hanya itu, bumi ini dan juga kehidupan kita senantiasa akan bergerak, berubah, berevolusi, dan menyempurna secara sustainabalitas yang itu berarti harus dihuni dan dikendalikan oleh makhluk yang siap dan mampu menjalani hidup secara dinamis dan evolutif. Dalam khazanah Teologi Islam, idiom yang setara dengan resolusi ini adalah “al-Muhāsabah”__ yakni melakukan kalkulasi secada realis, logis, matematis dan metafisis terhadap kehidupan yang dijalani (existing) dan yang akan dihadapi dan diharapkan (futuristik).

Pekerjaan al-Muhāsabah ini dilandaskan kepada ungkapan populer para guru Hikmah yaitu “Hāsabū anfusakum qabla antuhāsabū”_ kalkulasi dan evaluasi dirimu sebelum tiba saatnya amalanmu akan dikalkulasi atau dievaluasi”. Selain itu kegiatan muhasabah ini juga disandarkan kepada salah satu Hadis al-Rasul Saw sebagai berikut: “Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah bersabda perbaharuilah keimanan kalian!” Ditanyakan,” “Ya Rasulullah, bagaimanakah kami memperbaharui Iman kami? Beliau bersabda, “Perbanyaklah mengucapkan La ilaha illallah.” (H.r. Ahmad dan Thabrani). Hadis yang mengisyaratkan perlunya mereorientasi komitmen dan tujuan hidup. Atas dasar itu penting bagi kita untuk merumuskan ulang tentang pola dan momentum terbaik untuk melakukan resolusi hidup.

DARI IBADAH RAMADHAN MENUJU RESOLUSI

 Dari uraian di atas dapat disimpulkan sementara bahwa betapa pentingnya melakukan resolusi menyeluruh (life general resolution) bagi setiap orang secara berkala setidaknya satu kali dalam setahun. Bahkan dalam tradisi mistisisme Islam (sufism), resolusi ini dapat dilakukan setiap saat, setiap hari, seriap minggu, setiap bulan, hingga setiap tahun. Adapun tradisi yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Saw dengan mengucapkan istighfar antara 70 sampai dengan 100 kali dalam satu hari, telah menjadi isyarat betapa perlunya melakukan resolusi secara berkala dari yang paling sederhana lewat ucapan istighfar hingga muhasabah secara menyeluruh.

Karena begitu pentingnya pelaksanaan resolusi ini, maka ada beberapa persyaratan yang diperlukan untuk melakukan resolusi tahunan dalam kehidupan kita yakni: Pertama, pelaksanaan resolusi mesti dilakukan saat qalbu sedang dalam kondisi bersih, sejati, dan suci. Dalam konteks inilah maka sebelum melakukan resoluai, seseorang harus berupaya melakukan pensucian diri (tazkiyyatunnafs). Kedua, resolusi ini harus dirumuskan berbasis futuristik (pertimbangan masa depan). Dalam khazanah Teologi Islam yang dimaksud dengan masa depan adalah tujuan akhir dari kehidupan yaitu eskatologis atau menyangkut akhirat. Seseorang harus menetapkan isi resolusi tahunannya berdasarkan target yang ingin dicapainya di akhirat kelak. Allah Swt menjelaskan bahwa :  “walalākhiratu khairun laka minal ūlā” (Surat Duhā: 4)_ kehidupan akhirat lebih baik bagimu dari kehidupan dunia; “walalākhiratu khairun wa abqā” (Surat al-A’lā: 17)__ kehidupan akhirat lebih baik bagimu dan lebih abadi;

Seorang muslim misalnya mestilah mengharapkan masuk surga tertinggi di akhirat kelak, dan untuk pencapaian target tersebut ia harus menyusun rencana aksi atau rencana amal dan ibadah yang cukup untuk diganjari dengan fasilitas surga tertinggi tersebut. Dalam situasi ini, maka evaluasi harian, mingguan, dan bulanan seseorang harus didasarkan pada pencapaian akan taget-target antara yang ditetapkan sebagai untuk kemudian menjadi modal mendapatkan target akhir yang dicita-citakan. Ketiga, orientasi utama dari resolusi adalah perolehan martabat yang dekat dan mulia di sisi Allah Swt. Dengan begitu resolusi yang dilakukan mestilah dalam rangka revitalisasi modal untuk memperoleh derajat Taqwa. Allah Swt berfirman bahwa:  “fatazawwadū fainna khairuzzādi al-taqwā” (Surat al-Baqarah: 197)__ berbekallah dan sebaik-baik bekal bagimu adalah perolehan taqwa.

Tiga  persyaratan yang harus dipenuhi seseorang untuk melakukan resolusi berupa (1) tazkiyyatunnafsi; (2) penguatan orientasi ukhrawi, dan (3) upaya perolehan derajat taqwa, telah menjadi target-target yang sangat mungkin dicapai lewat pelaksanaan ibadah Ramadhan. Dengan kata lain bahwa secara substansi dapat dikatakan bahwa Ibadah Ramadhan sangat identik dengan penyiapan persyaratan resolusi bagi seorang muslim sehingga semakin baik kualitas ibadah Ramadhan seseorang akan semakin baik pulalah resolusi yang dapat dilakukannya. Atas dasar itu dapat disimpulkan bahwa resolusi tahunan bagi seorang muslim lebih tepat dimulai saat Ramadhan atau setelah selesai Ibadah Ramadhan ketimbang pada akhir atau awal tahun baru. Hal ini telah diperkuat dengan penjelasan para ahli bahwa “lailatul qadr” yang terjadi pada setiap Ramadhan  adalah merupakan resolusi menyeluruh bagi penghuni bumi. Sehingga melakukan resolusi tahunan bagi diri, keluarga, masyarakat dan bangsa pada bulan Ramadhan menjadi cukup beralasan.

PENUTUP

Mengacu kepada uraian di atas dapat dismpulkan bahwa melakukan resolusi adalah keniscayaan bagi setiap orang yang hidup di bumi ini. Resolusi sendiri harus dilakukan secara berkala mulai dari resolusi antara  berupa resolusi harian, mingguan, dan bulanan hingga resolusi secara menyeluruh atau resolusi tahunan. Selanjutnya, resolusi harus berorientasi keakhiratan dan lewat revitalisasi taqwa sebagai modal utamanya. Terakhir, resolusi harus dijadikan sebagai tradisi bagi individu, masyarakat, dan bangsa sehingga resolusi ini dapat dilakukan secara simultan oleh setiap individu, masyarakat, maupun bangsa demi memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat (hasanah fī al-dunyā wa hasnah fī al-ākhirah). Wallāhu A’lam.