Prof. Syahrin Berkelakar Serta Bercerita tentang Nuzul Alquran

Prof. Syahrin Berkelakar dan Bercerita tentang Alquran
Rektor UIN Sumut, OProf. Dr. H. Syahrin Harahap, MA

Gardamedannews.com- MEDAN-Peringatan Nuzul Quran di Masjid Ulul Albab Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, Jumat (22/4/2022) malam bertambah meriah ketika Rektor UIN Sumut, Prof. Dr. H. Syahrin Harahap, MA sedikit berkelakar saat memberikan sambutan pada acara itu.

“ Saya, kalau mendengar Pak Fadlan membaca Alquran, dalam pikiran saya, Pak Fadlan ini sedang merayu Allah. Jadi, apa yang dibaca Pak Fadlan, mudah-mudahan dikabulkan Allah, “ kata Prof. Syahrin yang disambut tawa jamaah. Pada acara itu, H. Fadlan Taher tampil sebagai pembaca Alquran yang mengalunkan Wahyu Illahi cukup syahdu.

Prof, Syahrin sedang mendengarkan penjelasan Dr. Ichwan Azhari tentang artefak Alquran

Tak cuma itu kelakar Prof. Syahrin. Ia juga menyambut baik kedatangan beberapa pengusaha di acara itu.. “ Kalau pengusaha yang datang, kita cukup senang, karena mereka berlomba menyumbang untuk keperluan acara. Jadi bisa mengurangi beban kita, “ ujar Prof. Syahrin sambil menyambut baik kedatangan pengusaha rumah makan Wong Solo.

Setelah berkelakar, Prof. Syahrin dalam sambutannya mengisahkan cerita Isra’ Mikraj. Ketika Rasul sampai di Rafratul Ahdhar, malaikat Jibril tak bisa lagi menemani Rasul menemui Sang Pencipta. “ Wahai Muhammad, aku hanya bisa menemani sampai di sini. Selanjutnya, engkaulah yang akan meneruskan perjalananmu, “ kata Jibril kepada Rasulullah.

Menurut Prof. Syahrin, ada pertemuan khusus “empat mata” antara yang punya hakekat Kalam dengan Korpus Kalam. Sebab, di ufuk, kedua yang saling mengasihi itu berdialog. “ Muhammad, jika disebut namaKu tersebut namamu. Dan, jika disebut namamu tersebut namaKu,”. Begitulah kata Allah kepada Muhammad junjungan alam.

Informasi dialog itu, jelas Prof. Syahrin, bertimplikasi kemana-mana. Kepada Wahyu, kepada kekasih, padqa teks, bahkan pada makna turun (nuzul) itu sendiri. “ Sayyid Ahmad Khan, misalnya, menerjemahkan turun (nuzul) itu terjadi pada ruang yang sama. Yang terjadi hanya pindah dari hakekat pada korpus yang menyejarah, “ jelas Prof. Syahrin.

Prof. Syahrin menerangkan, lebih eksplisit lagi terjemah Abdul Kalam Azad, bahwa firman itu ada pada diri manusia. Ayat-ayat Tuhan adalah apa yang ada pada diri manusia. Seperti yang telah disebutkan Allah, “ Pada dirimu, apakah kamu tidak memperhatikan,”.

Selain itu, Prof. Syahrin juga bercerita tentang bagaimana penjelasan teks dan qiroat, sampai akhirnya timbul kesadaran historik, khususnya dengan pendekatan filologi, menjadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari studi Alquran. “ Dengan demikian kita telah mendekati Alquran dari beragam perspektif, “ pungkas Prof. Syahrin. Sat