Fisafat Etika: Ramadhan dan Etika Konsumen

Forum GDKK280 Dilihat
Filsafat Hidup: Dari Ibadah Ramadhan Menuju Resolusi Tahunan Kehidupan
Dr. Solahuddin Harahap, MA

Oleh: Dr. Solahuddin Harahap, MA

(Ketua DPP Gerakan Dakwah Kerukunan dan Kebangsaan)

 Gardamedannews.com- MEDAN-Salah satu indikator dari pencapaian taqwa yang menjadi outcome Ibadah Ramadhan, adalah terjadinya perbaikan pada etika atau akhlak. Sebab taqwa sendiri dapat dimaknai dengan lahirnya kesadaran seorang hamba bahwa ia sedang menjalani kehidupannya bersama-sama dengan Allah Swt dan Rasululullah Saw (al-safaru fí al-dunyā ma’allāhi wa rasūlihi), dan untuk itu mesti terbangun liniearisasi pada akhlak seorang hamba dengan akhlak Allah Swt dan Rasul-Nya Muhammad Saw. Terhadap hal ini, para pakar bahasa telah menemukan bahwa kata “al-akhlāq”__ telah memiliki akar pada kata “al-khāliq” yakni Allah Swt, dan juga pada kata “al-makhlūq” yakni manusia dan termasuk Rasulullah Saw, sehingga terbangunnya keselarasan pada akhlak Allah Swt dengan Rasululullah Saw seterusnya manusia bertaqwa menjadi sebuah keniscayaan.

Kehadiran era digital dengan kebebasan pasar tanpa batas, diduga telah melahirkan berbagai ancaman terhadap pandangan dunia (worldview), yang dapat berdampak kepada perobahan gaya hidup (lifestyle) seterusnya kepada perobahan pola konsumen. Lompatan yang terjadi pada strategi promosi berbasis digital dengan iklan utamanya adalah efesiansi, efektifitas, dan layanan yang memanjakan konsumen, telah menjadi salah satu faktor penting di balik peningkatan angka konsumerisme belakangan ini. Memang, dalam konteks pasar bahkan dalam konteks ekonomi, peningkatan budaya konsumerisme bukanlah sebuah ancaman kalau bukannya malah merupakan modal dan peluang untuk lebih berkembang.

Namun, tidak demikian halnya pada konsep “al-iqtishād”_ sebagai padanan bagi ekonomi dalam khazanah Islam. Muhammad Baqir Shadr, ketika menjelaskan makna “iqtishādunā”_ menegaskan bahwa urusan ekonomi dalam pespektif Islam adalah urusan pemenuhan kebutuhan, pemenuhan keadilan, serta pemeliharaan martabat dan pencapaian kebahagiaan manusia. Konsisten dengan itu, maka ekonomi kita tidak pernah menjadikan konsep “demand and supply” sebagai dasar pengelolaan pasar, tetapi lebih luas telah mejadikan “need, distribution,  justice, and dignity”_ pemenuhan kebutuhan, distribusi, keadilan, dan kemartabatan sebagai prinsip dasar pengelolaan pasar dan pelayanan konsumen. Karenanya, keberadaan apalagi perluasan budaya konsumerisme akan menjadi salah satu ancaman yang perlu mendapatkan perhatian dalam tradisi ekonomi dan pasar dalam Islam.

HAKIKAT PASAR DAN POSISI ETIKA KONSUMEN

Dalam perspektif ekonomi Islam, pembahasan tentang konsumen secara khusus manusia atau masyarakat mesti mengacu kepada hakikat konsumen itu secara eksistensial. Sehingga ketika berbicara tentang kebutuhan, akan terkorelasi langsung dengan kebutuhan manusia secara komprehensif. Manusia sebagai konsumen dalam konteks ekonomi harus dilihat sebagai terdiri atas tiga dimensi yakni: (1) dimensi badan; (2) dimensi jiwa (al-nafs); (3) dimensi barzakh, dan (4) dimensi ruh. Mengacu kepada hal itu, maka ketika disebut kebutuhan manusia, bermakna kebutuhan manusia vis a vis empat dimensi yang ada pada diri.

Penting pula diketahui bahwa, keempat dimensi diri ini tersusun secara bertingkat (hierarkis) dan karenanya dikendalikan secara topdown, dimana dimensi tertinggi akan menjadi pengendali dan pengontrol bagi dimensi di bawahnya. Dikaitkan dengan kebutuhan sebagai konsumen, maka jenis dan jumlah kebutuhan manusia terhadap barang dan jasa yang tersedia di pasar, akan sangat ditentukan oleh pengendali tertinggi eksistensinya yakni ruhnya. Dalam situasi seperti ini, maka pasar bukan sekadar wadah bagi dinamika permintaan dan pemenuhan (demand & supply) konsumen, tetapi secara lebih luas telah menjadi wadah bagi pemenuhan kebutuhan hidup manuisa atau konsumen secara adil demi terpiharanya martabat dan kebahagiaan manusia secara eksistensial.

Sejalan dengan uraian di atas, maka sistem ekonomi Islam akan menolak keberadaan budaya konsumerisme dan menggantinya dengan etika konsumen. Terhadap persoalan ini Allah Swt, telah memberikan isyarat pada surah al-A’rāf:31 yang artinya: “Hai Anak adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebihan. Sesunnguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan’. Ayat ini telah menjelaskan bahwa dalam konteks badan, maka kebutuhan manusia terhadap pasar hanya menyangkut pemenuhan sandang agar terlindungi, pemenuhan pangan agar tidak kelaparan, serta pemenuhan papan agar dapat berteduh dan aman.

Namun, ketika berhadapan dengan jiwa, maka sandang tidak sekadar menutupi dan melindungi, tetapi juga harus mengandung keindahan. Begitu pun dengan persoalan pangan dari sekadar agar tidak kelaparan menuju kehahalan, kelezatan, dan kesehatan. Demikian halnya dengan papan dari sekadar tempat berteduh menjadi pusat dan wadah bagi pemberdayaan, pembinaan prilaku dan budaya. Lebih jauh ketika berhadapan dengan dimensi barzakh, maka kebutuhan manusia adalah penegakan nila-nilai luhur kemanusiaan dan kemasyarakatan, sehingga pengelolaan pasar harus diposisikan sebagai wadah dan sarana bagi penegakan keadilan, kepedulian, kebersamaan, persudaraan, kasih sayang, hingga kepada persataun dan kesatuan.

Sementara itu, dalam konteks pemenuhan kebutuhan manusia berdasarkan dimensi ruh, maka pengelolaan pasar harus dapat dilihat sebagai sarana dan wadah pensucian diri untuk kemudian dapat melangkah lebih dekat kepada Allah (al-taqarrub), serta dapat bersama dan meniru Sifat Allah sebagai “al-Ghaniý, al-Fattáh, al-Rahmān, al-Wahhāb, al-Razzāq, dan al-‘Adl”. Kesadaran akan adanya level kebutuhan ini biasanya akan membuat seseorang bersifat dermawan, qanā’ah, peduli, rela berkorban, dan relawan. Lewat pemilikan akan karakter-karakter ini lah kemudian  seseorang dapat melalui seluruh kegiatannya dalam kehidupan bersama Allah Swt.

Ibadah Ramadhan, dengan salah satu tujuan strategisnya adalah menggiring manusia agar mengenali kembali hakikat dirinya sebagai yang terdiri dari badan, jiwa, barzakh, dan ruh. Lewat pengenalan ini, kemudian Ibadah Ramadhan diharapkan dapat menuntun manusia untuk mau merevitalisasi sistem pengendalian diri (selfcontrol), bahkan sistem pengelolaan diri (self-empowerment), yakni menjadikan dimensi tertinggi yakni ruh sebagai pengendali dan penuntun bagi barzakh, jiwa, serta jasad. Konsistensi kepada pengendalian diri lewat pola ini diharapkan dapat menghantarkan manusia menjadi sejati (fitrah) dan seterusnya  dapat memperoleh derjat taqwa sehingga dapat hidup bersama Allah Swt.

Penting dipahami bahwa, kemampuan mengendikan diri yang dikehendaki ibadah Ramadhan, bukan saja menyangkut hubungan hamba dengan Allah Swt dan Rasulullah Saw (Teologis), tetapi juga terhadap yang berkaitan dengan aspek-aspek kehidupan dunia secara horizontal yakni ekonomi, pasar, sosial, politik, hingga menyangkut budaya dan bangsa. Karena itu momentum perbaikan sistem pengendalian diri yang diperoleh lewat ibadah Ramadhan, seharusnya mencakup urusan konsumsi, urusan pasar, dan urusan bisnis. Sehingga salah satu outcome dari ibadah Ramadhan harus mencakup perbaikan pada etika konsumen. Yakni seseorang mampu mengatur pola konsumsinya berbasis kebutuhan badan yang dikendalikan jiwa. Jiwa yang dikendalikan oleh barzakh, dan barzakh yang dikendalikan oleh ruh yang suci berada dekat di sisi Allah Swt. Sebaliknya keberadaan dan layanan pasar harus benar-benar berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan sejati, bukan pemenuhan keinginan apalagi mengarah kepada sikap pemborosan.

Jika ibadah Ramadhan dapat membimbing kita kepada perbaikan etika konsumen ini, maka ketersediaan pasar yang bebas dan tanpa sekat sebagaimana yang disuguhkan lewat kecanggihan teknologi, tidak akan mampu mempengaruhi karakter, tradisi,  budaya, serta worldview kita yang sejatinya memiliki karakter peduli, empati, sederhana, pro kepada kebersamaan, persaudaraan dan persatuan. Hal itu berarti Ramadhan dapat membantu kita menciptakan pola konsumsi yang benar-benar dapat mengakomodir kebutuhan  kita secara komprehensif, baik sebagai individu maupun dalam kehidupan sosial.

PENUTUP

Menarik sekali ketika salah satu bentuk ibadah Ramadhan adalah diwajibkannya membayar zakat fitrah. Ibadah ini memcoba menghubungkan antara pemenuhan kebutuhan badan sebagai prasyarat untuk pememuhan kebutuhan jiwa. Jika di dalam konteks kesehatan kerap dikatakan bahwa “jiwa yang sehat terdapat pada tubuh yang sehat”, maka dalam konteks Ramadhan dapat dikatakan bahwa “jiwa yang suci (fithrah) hanya akan berada pada badan yang terpenuhi kebutuhannya”.

Sehingga jika terdapat salah satu badan di antara suatu kaum yang tidak memperoleh kebutuhannya akan makan di pagi 1 Sawal, maka kesucian jiwa (fithri) juga tidak akan diperoleh kaum tersebut. Kehadiran pasar serta pengaturan pola dan psikologi konsumen harus dalam rangka pemenuhan kebutuhan bersama secara adil dan merata, serta tanpa dikriminasi. Rasulullah Saw bersabda “Tidak beriman seseorang yang didapati sedang kenyang, sedangkan ia membiarkan tetangganya dalam keadaan lapar”. Karena itu, penting dipastikan, agar sistem pengelolaan pasar serta pola konsumen yang ada harus diperbaiki dalam rangka pemenuhan kebutuhan manusia secara adil berbasis hierarki dimensial yang terdapat pada diri kita. Wallàhu A’lam