Filsafat Sosial: Dari Taqwa Menuju Egalitarianisme

Forum GDKK483 Dilihat

Oleh: Dr. Solahuddin Harahap, MA

( Ketua DPP Gerakan Dakwah Kerukunan dan Kebangsaan)

 Kesetaraan atau “berpandangan bahwa semua orang setara secara eksistensial” merupakan salah satu nilai universal yang mesti dijunjung tinggi terutama dalam konteks sosial, budaya, politik, apalagi dalam beragama. Allah Swt, telah menegaskan sebagai berikut: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (Surah al-Hujarāg: 12).

Ayat ini menegaskan bahwa kedudukan seorang manusia terhadap manusia lainnya dapat dilihat dalam dua jalur, yakni: (1) setiap kita adalah berbeda atau memiliki kekhasan dari orang lain sehingga tidak ada orang yang benar-benar identik atau sama dengan orang lain; (2) setiap kita adalah setara dengan orang lain, sehingga tidak ada seorang pun yang patut merasa lebih dari selainnya. Untuk membaca dua pola ini, perlu lah kita merenungkan sejenak tentang hakikat  wujud manusia sebagai yang tersusun atas empat dimensi. Setiap kali disebut ‘seorang manusia,__ maka itu berarti ada seorang makhluk yang diciptakan Allah Swt dalam susunan empat dimensi yakni: (1) dimensi ruh; (2) dimensi barzakh; (3) dimensi jiwa (nafsu), dan (4) dimensi badan.

 

Berdasarkan pada empat dimensi, ini maka realitas berbeda dan mesti memiliki kekhasan, hanya berlaku pada dimensi badan dan segala yang terkait dengan badan atau materi. Ada pun pada tiga dimensi lainnya jiwa, barzakh, dan ruh, maka semua manusia dapat bertemu pada titik setara. Dengan demikian, maka peluang manusia untuk hidup dalam secara setara, jauh lebih luas daripada untuk hidup dalam perbedaan. Sehingga, dapat dikatakan bahwa kesadaran akan kesetaraan bermakna kesadaran akan hakikat keberadaan. Karenanya Ibadah Ramadhan yang diyakini dapat mewadahi setiap orang untuk dapat menyadari kembali akan hakikat eksistensinya (fithrahnya), diyakini akan mampu menghantarkan setiap orang untuk dapat menyadari betapa mengedepankan kesetraan jauh lebih baik dan lebih bermanfaat bagi kemajuan peradaban, ketimbang membesar-besarkan perbedaan.

TAQWA DAN KESADARAN EGALITARIANISME

Secara umum, kata taqwa telah dimaknai sebagai capain maqam seorang hamba dimana ia memiliki kesadaran dan perasaan mendalam bahwa pada dasarnya dirinya identik dengan Allah Swt sehingga ia akan berupaya meniru Allah Swt. Dengan ungkapan lain bahwa dirinya adalah pengejawantahan sifat dan asma Allah Swt di bumi, sehingga ia akan cenderung untuk komit dalam mengerjakan apa saja yang disukai Allah Swt dan meninggalkan apa saja yang dilarang dan dibenci oleh Allah Swt. Dilihat pada pemaknaan ini, maka ketakwaan akan mungkin dicapai seseorang ketika ia mampu menyelami akan apa hakikat dari dimensi terdalam dirinya yaitu “ruhnya sendiri”. Dalam konteks ini, seseorang harus mampu menemukan bahwa hakikat dirinya berada pada dimensi ruh atau ruhnya sendiri. Ruh yang merupakan pengejawantahan  pertama dari Wujud Allah Swt dalam teori emanasi al-Farabi dan Abu Ali Sina.

Ruh ini berada sangat dekat dengan Allah Swt, bahkan dalam Teologi Islam, Jibril As yang merupakan penghulu para Malaikat dan paling dekat disisi Allah Swt, telah disebut sebagai “al-Rūh, al-Rūh al-Quddūs, al-Rūh al-Amîn”. Karena itu, posisi manusia sebagai ruh akan dapat menyifati atau meniru sifat-sifat Allah Swt tentu dalam tingkatan yang jauh lebih sederhana. Secara eksistensial, karena setiap manusia telah miliki ruh yang sama, maka setiap orang akan berpeluang untuk meniru sifat-sifat Allah Swt dan mengejewantahkannya dalam kehidupan. Atas alasan, itu maka pencapain derajat taqwa dapat disuga akan linier dengan terbangunnya kesadaran bahwa setiap orang adalah setara (egalitarianisme) serta memiliki modal dan peluang yang setara pula untuk dapat mengaktualksasi sifat-sifat Allah dalam kehidupan di bumi.

Pada penghujung ayat 12 dari Surah al-Hujarāt, Allah Swt menegaskan bahwa “yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling takwa”. Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama dari kehidupan adalah untuk memperoleh kemuliaan di sisi Allah Swt. Kemuliaan dalam konteks ini adalah tingkat kedekatan dengan Allah Swt secara eksistensial serta tingkat kemampuan dalam mengejawantahkan sifat-sifat Allah Swt dalam pengelolaan dan pemeliharaan kehidupan yang baik di bumi. Sehingga semakin dekat seseorang kepada Allah Swt , maka ia akan semakin takqwa. Kemudian, semakin taqwa seseorang akan semakin mampu ia mengaktualisasi sifat-sifat Allah yang mulia dalam kehidupannya, termasuk dalam mendorong lahirnya kesadaran egalitarianisme yang dibutuhkan sebagai pilar memajukan peradaban bumi. si

Jika jalan pikiran ini dapat diterima, maka egitarianisme dalam konteks Islam adalah terbangunnya kesadaran bahwa manusia memiliki eksistensi yang sangat mulia dan begitu dekat disisi Allah Swt. Setiap manusia yang mampu mengakses kesadaran akan hakikat eksistensinya itu, maka ia akan menjadi mulia karena berada dekat di sisi Allah Swt. Dalam kesadaran sebagai makhluk termulia yang dekat di sisi Allah Swt, maka setiap manusia akan berupaya secara konsisten untuk pintar mengadaptasi dan mengaktualisasi sifat-sifat Allah Swt dalam kehidupan demi terbangunnya peradaban yang dapat menjunjung tinggi martabat manusia yang sejatinya mulia.

EGALITARIANISME DAN PERADABAN MULIA

Penting dijelaskan disini bahwa taqwa ataunderajat taqwa bukanlah sebatas istilah atau idiom sakral yang tidak mendapatkan wadah aktualisasi dalam kehidupan di bumi. Bahkan, dalam perspektif Filsafat Pergerakan, keberadaan taqwa atau orang-orang bertaqwa diyakini sebagai kata kunci bagi terwujudnya peradaban mulia di bumi. Memang, pada mulanya pelantikan seorang hamba menjadi “al-muttaqu” telah terjadi pada dimensi tertinggi eksistensial yakni pada dimensi ruh. Pada dimensi inilah dibangun kembali perjanjian antara Allah Swt dengan Manusia Bertaqwa agar manusia bertaqwa siap mengadaptasi dan mengaktualisasi sifat-sifat Allah Swt untuk mengurus bumi. Pada Surah al-A’rāf:96 di atas, Allah Swt telah menjelaskan bahwa keberadaan orang beriman dan bertaqwa di bumi akan menjadikan kehidupan dan peradaban bumi dipenuhi keberkahan dan kemuliaan. Mereka lah yang mampu menjadi motivator dan isnpirator bagi masyarakat dalam menyadarkan betapa pentingnya menumbuhkan kesadaran egalitarianisme sebagai modal sosial untuk terbangunnya masyarakat yang saling menghormati, saling menghargai, saling mendukung, sebagai syarat memajukan peradaban mulia.

Rasulullah Muhammad Saw, adalah prototife manusia taqwa yang paling berhasil mengadaptasi sifat-sifat Allah Swt dan mengejawantahkannya dalam berbagai aspek kehidupan di bumi. Rasullah Saw, telah mencontohkan bagaimana komitmen yang dibangun oleh ruh kita bersama Allah Allah Swt, pada saat berada dekat. Komen ruh ini kemudian diturunkan ke jiwa terdalam atau kita sebut barzakh, seterusnya diturunkan ke dalam jiwa dan nalar. Dari jiwa dan nalar,  komitmen ini kemudian diturunkan kembali oleh Rasulullah Saw dalam bentuk Hadis berisi perkataan, keputusan, dan sikap. Tidak berhenti pada Hadis, Rasulullah Saw, telah pula mengaktuisasi dan mengkontekstualisasi hadis-hadis beliau (sunnah), bahkan ayat-ayat al-Qur’an dalam merespon berbagai persoalan dan kebutuhan kehidupan di bumi.

Telah terjadi linearitas secara konsisten pada diri Rasulullah Saw ketika mengejawantahkan sifat-sifat Allah Swt hingga menjadi prinsip, konsep, teori, hukum,  bahkan hingga sikap serta aksi Belau dalam kehidupan dengan suluruh aspek-aspeknya. Ada pun salah satu, bentuk pemgejawantahan sifat-sifat Allah Swt dalam kehidulan sosial, politik dan agama yang ditirukan Rasulullah Saw, adalah sikap egaliter yang selalu dipraktikkan dan didorong oleh Beliau agar selalu menjadi bagian dari tradisi dan budaya kita. Atau setidaknya menjadi landasan bagi pembangunan budaya, tradisi,  politik, bahkan keberagamaan kita. Sebab, budaya dan tradisi bangsa yang dibangun di atas prinsip-prinsip egitarianisme diyakini dapat menjadi modal dalam memajukan bangsa seterusnya memajukan peradaban mulia di bumi.

PENUTUP

Apa yang dirumuskan oleh Rasulullah Saw, dalam Piagam Madinah tentang kesetaraan, kebersamaan, toleransi, dan saling menghormati, telah menjadi bukti historis betapa ketaqwaan telah menjadi modal utama bagi seseorang dalam membangun sikap egaliter

Begitu pun dengan dengan masyarakat sebagaimana yang disinggung dalam surah al-A’rāf:96, dimana semakin takwa suatu masyarakat, maka akan semakin egaliter. Lebih jauh, semakin egaliter suatu masyarakat akan semakin kuat toleransi, kebersamaan, dan rasa perstuannya, seterusnya akan semakin besar pula peluang yang dimiliki untuk dapat memajukan peradaban.

Kesadaran egaliatarianisme dengan demikian akan dapat menuntun kita untuk memahami bahwa secara fithrah,  kita telah lebih cenderung setara daripada berbeda. Kita berada setara dalam kemuliaan di dekat Allah swt, dan karenanya dalam kesadaran akan kesetaraan itu lah kita dapat membangun komitmen-komitmen penting yang dibutuhkan dalam pengelolaan kehidupan di bumi serta dalam memajukan peradaban. Karena itu, sangat besar harapan kita, kiranya Ibadah Ramadhan ini benar-benar dapat menghantarkan kita kepada ketaqwaan yang dapat melahirkan kesadaran egalitarianisme untuk modal memajukan peradaban mulia di bumi. Wallāhu A’lam.