Hasnah: 50 Tahun UIN Sumut, Insya Allah Raih Akreditasi Unggul

Akademik, Nasional, Ragam1309 Dilihat
Hasnah: 50 Tahun UIN Sumut, Insya Allah Raih Akreditasi Unggul
Wakil Rektor II UIN Sumut, Dr, Hj. Hasnah Nasution, MA

Gardamedannews.com- MEDAN- Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara pada 2023 ini menginjak usia 50 tahun. Menyongsong usia dewasa itu, ada beberapa program yang akan diluncurkan “ Kita ingin di usia dewasa ini, UIN Sumut jauh lebih baik lagi, “ ungkap Wakil Rektor II UIN Sumut, Dr. Hj. Hasnah Nasution, MA, Jumat (10/6/2022) usai rapat penyambutan kedatangan Menteri Agama RI, di kampus UIN Sumut Jalan Sutomo Medan.

Program yang akan diluncurkan tentu akan jadi fenomenal bagi UIN Sumut. Salah satunya, mengganti logo UIN Sumut menjadi lebih baik. “ Terlihat elegan dan transparan, “ kata Hasnah. Kemudian, program lain adalah menggelar seminar internasional tentang moderasi beragama pada 14 Juni 2022. Pada seminar ini akan tampil sebagai keynote speaker adalah Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Coumas, dan Rektor UIN Sumut, Prof. Dr. H. Syahrin Harahap, MA.

Yang menarik, di penghujung tahun ini, rencananya UIN Sumut akan memulai pembangunan gedung Tahfiz Quran dan tugu Wahdatul Ulum di kampus Sutomo Medan. Tak cuma itu, Museum Alquran juga akan berdiri di kampus UIN Sumut di Tuntungan. Dan, yang saat ini sedang diproses adalah pembangunan Fakultas Kedokteran di Lahan UIN Sumut di Desa Sena, Batang Kuis, Deli Serdang seluas 100 Hektare.

“ Tapi, selain itu, UIN Sumut saat ini sedang mengebut akreditasi menjadi Unggul, yang Insya Allah akan dinilai pada Oktober 2022 ini, “ jelas Hasnah. “ Tentu ini akan menjadi kebanggaan bagi kita semua, sesuai dengan slogan UIN Sumut, UIN Kita, “ tambahnya.

Narasumber Seminar

Dalam Seminar Internasional  “ Kontribusi Kearifan Lokal  Dalam Moderasi Beragama di Indonesia “ nanti,   Dr. Hj. Hasnah Nasution, MA menjadi salah seorang narasumber. Hasnah akan mengupas tuntas tentang latar belakang moderasi beragama di Sumatera Utara, yang dimulai sejak kehadiran Tjong A Fie di Sumatera Utara.

Berdasarkan penelitian Hasnah, Tjong A Fie telah meletakkan dasar-dasar moderasi beragama. Tengoklah, Tjong A Fie banyak membantu pembangunan Masjid dan rumah ibadah lainnya. Bahkan, Masjid Bengkok di Medan dibangun dari hasil sumbangan penuh dari Tjong A Fie. “ Dia juga membangun jalan Medan-Belawan untuk kepentingan masyarakat, “ jelas Hasnah.

Tjong A Fie

Tjong A Fie dapat dilihat sebagai seorang tokoh awal yang mampu melampaui ikatan-ikatan secara formal, nilai suku dan agama yang dianutnya, dan lewat kamampuan itu, tokoh ini telah memotori terbangunnya kolaborasi berbagai komponen masyarakat dalam mewujudkan masyarakat yang lebih maju, terbuka dan tetap memelihara harmonitas.

Menurut Hasnah inspirasi berharga ini, agaknya pantas dilestarikan dan direkonstruksi sedemikian rupa, sehingga dapat menjadi modal sosial baru dalam mewujudkan kohesi, harmoni serta moderasi beragama di Sumatera Utara. “ Tjong A Fie telah terbukti mampu mengkonstruksi nilai-nilai kearifan masyarakat sebagai modal sosial dalam memberdayakan masyarakat termasuk dalam konteks kehidupan beragama ” sebut Hasnah.

Ada yang menarik dari diri Tjong A Fie. Hasnah bercerita, 40 hari sebelum Tjong A Fie meninggal, ia meninggalkan beberapa wasiat. Antaranya, Tjong A Fie meminta kepada keluarganya agar hartanya diberikan kepada anak-anak yang putus sekolah. Kemudian, membantu warga korban letusan gunung Kelud. “ Lima persen dari hartanya ia hibahkan untuk orang lain, “ ujar Hasnah.

Tjong A Fie (1860–1921) adalah seorang pengusahabankir dan kapitan yang berasal dari Tiongkok dan sukses membangun bisnis besar dalam bidang perkebunan di SumatraIndonesia. Tjong A Fie membangun bisnis besar yang memiliki lebih dari 10.000 orang karyawan. Karena kesuksesannya tersebut, Tjong A Fie dekat dengan para kaum terpandang di Medan, di antaranya Sultan DeliMa’moen Al Rasyid serta pejabat-pejabat kolonial Belanda.

Pada tahun 1911, Tjong A Fie diangkat sebagai “Kapitan Tionghoa” (Majoor der Chineezen) untuk memimpin komunitas Tionghoa di Medan, menggantikan kakaknya, Tjong Yong Hian. Sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa, Tjong A Fie sangat dihormati dan disegani, karena ia menguasai bidang ekonomi dan politik.]Kerajaan bisnisnya meliputi perkebunanpabrik minyak kelapa sawit, pabrik gulabank, dan perusahaan kereta api.

Tjong A Fie dilahirkan dengan nama Tjong Fung Nam dari keturunan orang Hakka di SungkowMeixianGuangdong, (Tiongkok) pada tahun 1860] Kemudian juga mendapat nama Tjong Yiauw Hian, dan akhirnya lebih dikenal dengan nama Tjong A Fie ]

Ia berasal dari keluarga yang sederhana. Bersama kakaknya Tjong Yong Hian (1850-1911), Tjong A Fie meninggalkan bangku sekolah dan membantu menjaga toko ayahnya. Walaupun hanya mendapatkan pendidikan seadanya, tetapi Tjong A Fie sangat cerdas dan menguasai cara-cara berdagang sehingga usaha keluarganya cukup sukses. Tar