Prof. Syahrin: “ Gubsu Edi Rahmayadi Prototipe Raja Melayu ”

Prof. Syahrin: “ Gubsu Edi Rahmayadi Prototipe Raja Melayu”
Prof. Syahrin, Edi Rahmayadi dan Musa Rajekshah

Gardamedannews.com- MEDAN- Ketajaman dan nalar intelektual Prof. Dr. H. Syahrin Harahap, MA memang tak perlu diragukan. Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara itu memiliki kemampuan meneliti dan menganalisis dengan tepat fakta-fakta sejarah, baik itu peristiwa atau tokoh di baliknya.

Kali ini, Prof. Syahrin menyebut bahwa Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Edi Rahmayadi adalah prototipe Raja Melayu. Edi, seperti yang terpantul dalam kata-kata dan tindakannya, memerankan dirinya sebagai Raja Melayu. Lihatlah, Edi selalu menyebut kata-kata “ kalian ini rakyatku” saat berhadapan dengan warga Sumatera Utara.

“ Ya, seperti itulah prototipe Raja Melayu, sangat merakyat, “ jelas Prof. Syahrin kepada wartawan, Jumat (10/6/2022) usai memimpin rapat menyambut kedatangan Menteri Agama RI, di kantornya kampus UIN Sumut Jalan Sutomo, Medan. Menurut rencana, menteri Agama RI, Yaqut Cholil Coumas akan berkunjung ke UIN Sumut pada 14 Juni 2022 untuk memantau langsung Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri Islam Negeri dan membuka Seminar Internasional tentang moderasi beragama.

Di mata Prof. Syahrin, Gubsu Edi Rahmayadi adalah Jenderal Merah Putih dengan pengalaman 16 kali terjun di kancah peperangan. Sebenarnya, Edi adalah orang Melayu yang lama tinggal di Aceh. Makanya, corak Melayunya masih lebih kentara. “ Edi Rahmayadi itu dulu tinggal di daerah Besitang, “ ungkap Prof. Syahrin.

Berdasarkan penuturan Prof. Syahrin, ada cerita yang menyentuh ketika Edi Rahmayadi masih kecil. Waktu itu, orang tua Edi memiliki seekor kuda. Entah apa sebabnya, tiba-tiba kaki kuda tersebut menyipak seoarang anak Belanda, dan anak itu meninggal. Hanya sekitar dua jam setelah itu, pihak Belanda pun mengultimatum akan membumihanguskan tanah Besitang. “ Sejak itulah Edi Rahmayadi pindah ke Aceh, “ kata Prof. Syahrin.

Tjong A Fie, Sisingamangaraja dan Sultan Deli

Tokoh Moderasi Beragama

Cerita tentang Edi Rahmayadi itu muncul setelah Prof. Syahrin mengungkapkan bahwa ada tiga tokoh yang berperan penting dalam moderasi beragama. Ketiga tokoh tersebut adalah, Tjong A Fie (Cina), Sultan Batak Sisingamangaraja (Batak Islam), dan Sultan Deli (Melayu). “ Ketiganya mengawali praktek moderasi beragama di Sumatera Utara, “ cetus Prof. Syahrin.

Sultan Deli, menurut Prof. Syahrin, sangat terbuka terhadap siapa pun, termasuk VOC Belanda. Sultan sangat kooperatif dengan Belanda. Baginya, terbuka dan menerima siapa pun tak berkaitan dengan agama.  Karena itu, dari segi universialisme, Sultan Deli memang luar biasa.

“ Kerukunan beragama dan ummat beragama sebenarnya dimulai dari Sumatera Utara. Ini bisa dilihat dari sosok ketiga tokoh tersebut, “ ucap Prof. Syahrin.

Untuk itulah, Prof. Syahrin sangat tidak sependapat dengan uangkapan bahwa di Sumatera Utara intoleransi. Itu tidak benar. Buktinya, dari ketiga tokoh itu sudah terlihat dengan jelas bahwa sejak dari dulu masyarakat Sumatera Utara sangat menjunjung tinggi toleransi sesama umat beragama. “ Dengan alasan apa menyebut warga Sumatera Utara intoleransi. Saya tidak sependapat dengan itu, “ pungkas Prof. Syahrin. Tar