Prof Syahrin: “Ya Allah Lindungi Presiden Jokowi, Jadikan Pelopor Perdamaian Dunia”

Prof Syahrin: “Ya Allah Jaga Presiden Kami, Jadikan Pelopor Perdamaian Dunia”

Prof. Syahrin (tengah) sedang berdoa untuk PresidenGardamedannews.com-MEDAN- Siang itu, Kamis, 30 Juni 2022, pelataran Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara di Tuntungan, Deli Serdang, cukup terik. Mentari begitu gagah “berdiri” mengangkang memancarkan sinarnya. Tak ada yang mampu menatapnya. Dan, tak ada pula yang sanggup menghentikan sengatannya.

Namun, persis di bawah monumen Wahdatul Ulum, Rektor UIN Sumut, Prof. Dr. H. Syahrin Harahap, MA, berdiri gagah. Cendikiawan dan Intelektual Muslim ternama itu, tak perduli dengan kemejanya yang kuyup karena keringat yang tak bisa diajak kompromi. Lalu, penggagas Wahdatul Ulum itu mengangkat dua tangannya.

“ Ya Allah, jaga dan lindungi Presiden Joko Widodo yang kini berada di Rusia dan Ukraina, negara yang berkonflik. Jadikanlah Presiden kami sebagai pelopor perdamaian dunia, “. Itulah penggalan doa yang dipanjatkan Prof. Syahrin yang diaminkan sekitar 150 dosen, pegawai dan mahasiswa UIN Sumut. Terlihat di antaranya, Dekan Fakukltas Ilmu Sosial (FIS) Dr. Maraimbang Daulay, MA, Wakil Dekan II Dr. Irwansyah MA, Wakil Dekan III Dr. Yoserizal MA, dan Wakil Dekan III Saintek Dr. Syahdin Hasibuan MA.

Dalam “Doa Bersama untuk Presiden” itu, Prof. Syahrin mengingatkan, bahwa doa bersama ini adalah bagian dari pendidikan politik untuk mahasiswa UIN Sumut. “ Jika kelak kalian menjadi pemimpin bangsa, semoga kalian mendapat dukungan dari bangsa Indonesia, “ ujar Prof. Syahrin.

Doa suci yang dilantunkan Prof. Syahrin untuk Presiden Jokowi, adalah bentuk dukungan Rektor dan seluruh keluarga besar UIN Sumut untuk Presiden yang kini tengah berkunjung ke Rusia dan Ukraina, membawa misi perdamaian dunia. Doa ini cukup penting karena Presiden “berkelana” di negara yang sedang terlibat perang. Apalagi, senjata, peluru, rudal, bom dan apapun namanya, masih berterbangan di daerah itu.

Prof. Syahrin sadar, tak ada yang bisa menjamin keselamatan Presdiden Jokowi di kedua negara itu. Kapan saja, Presiden bisa menjadi sasaran peluru tak bertuan. Atau keganasan bom yang tak pernah mau tahu dengan jabatan Presiden. Di sinilah pentingnya kekuatan doa kepada Sang Maha Kuasa. Sebagai rakyat, kecintaan dan kepatuhan terhadap pemimpin, adalah salah satu aktualisasi keimanan yang diajarkan Rasulullah Saw.

Entah kebetulan atau tidak, tapi di saat doa dipanjatkan Prof. Syahrin, atau sesaat sebelum Presiden Jokowi bertemu Presiden Rusia Putin, Kamis (30/6/2022), Menteri Pertahanan Rusia mengumumkan menarik seluruh pasukan Rusia dari Pulau Ular di Laut Hitam. Pulau tersebut merupakan medan pertempuran yang sangat strategis.

Pulau Ular sangat penting bagi Ukraina. Sebab, laut ini merupakan lalu lintas pengiriman produk ekspor Ukraina, termasuk gandum. Indonesia termasuk importir gandum terbesar kedua, setelah Mesir dari Ukraina dengan total 2,81 juta ton pada 2021. Dengan begitu, gandum Ukraina sudah bisa masuk Indonesia lagi. Artinya, salah satu misi perdamaian yang dibawa Jokowi, sudah menampakkan hasil.

Kunjungan Presiden RI ke daerah konflik, memang bukan hanya dilakukan Jokowi. Sebelumnya, pada 1995, Presiden Soeharto juga pernah berkunjung ke negara yang sedang berperang, yaitu Bosnia. Pak Harto cukup nekat melakukan kunjungan itu. Padahal sesaat sebelum ia tiba di Bosnia, pesawat PBB ditembak jatuh.

Pak Harto cukup tenang. Bahkan ia menolak jaket anti peluru yang diserahkan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspamres), Sjafrie Sjamsuddin. “ Jinjing aja jaket itu, “ kata Pak Harto pada Sjafrie. Apa boleh buat, Sjafrie pun terpaksa memakai kopiah dan jas agar terlihat seperti Pak Harto, untuk menghindari sasaran tembak.

“Ya, kita kan tidak punya uang. Kita ini pemimpin Negara Non Blok tetapi tidak punya uang. Ada negara anggota kita susah, kita tidak bisa membantu dengan uang ya kita datang saja. Kita tengok. Yang penting orang yang kita datangi merasa senang, morilnya naik dan mereka menjadi tambah semangat,” kata Pak Harto menjawab Sjafrie Sjamsuddin yang mempertanyakan mengapa Pak Harto nekad ke Sarajevo, Bosnia. Tar