Prof Syahrin: Ibadah Qurban Merupakan Implementasi Wahdatul Ulum

Prof Syahrin: Ibadah Qurban Merupakan Implementasi Wahdatul Ulum
Rektor UIN Sumut, Prof. Dr. H. Syahrin Harahap MA

Gardamedannews.com- MEDAN- Beberapa hari lagi ummat Islam akan merayakan Idul Adha. Hari Raya kedua setelah Idul Fithri ini, identik dengan hari raya Qurban. Sebab, di hari sakral ini, ummat Islam berlomba melaksanakan Qurban, sebagai bentuk “pengorbanan” yang dicontohkan Nabi Ibrahim As.

Namun, dalam pandangan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sumastera Utara, Medan, Prof. Dr. H. Syahrin Harahap MA, ibadah Qurban bukan hanya sebatas ritual pengorbanan dan persembahan. Qurban adalah bentuk implementasi Wahdatul Ulum. Sebab, selain ibadah, dalam Qurban terlihat jelas unsur sosiologis, ekonomis dan politis.

“ Semua itu terintegratif dalam ibadah Qurban, “ jelas Prof. Syahrin, Kamis (7/7/2022) malam dalam bincang-bincang ringan di sebuah Kafe di Medan, bersama Ketua Gerakan Dakwah Kerukunan Kebangsaan (GDKK), Dr. Solahuddin Harahap, MA,  Wakil Dekan III Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), Dr. Arifuddin Harahap, M.Hum. Kabag Umum, Harmansyah dan Kabag Akademik, Ilyas Gompar.

Secara politis misalnya, Prof. Syahrin mencontohkan, ada alumni UIN Sumut yang dibantu UIN untuk menyebarkan hewan Qurban di tengah-tengah masyarakat, secara implisit ini membantunya untuk bersosialisasi pada masyarakat. Paling tidak, jika ada pesta demokrasi, ini dapat “mendongkrak” namanya.

Dari segi ekonomis, daging qurban yang diterima masyarakat, bisa menghemat pengeluaran warga dalam membeli lauk, setidaknya dua hari. Sedangkan makna sosiologisnya, melalui qurban keluarga besar UIN Sumut dapat berbaur luas dengan masyarakat. “ Inilah yang kita sosialisasikan kepada seluruh civitas akademika, bahwa Wahdatul Ulum itu adalah cara kita hidup dan beragama, “ kata Prof. Syahrin, ulama, cendikiawan dan intelektual kebanggaan masyarakat Sumatera Utara ini.

Prof. Syahrin menilai, selama ini agama itu dianggap doa dan ibadah. Namun melalui ibadah Qurban, sebenarnya terlihat adanya rekayasa sosial. Maksudnya, rekayasa sosial itu memberikan penjelasan  kepada masyarakat bahwa apapun dan bagaimanapun situasinya, kepedulian sosial harus tetap berjalan.

“ Kjita tidak kenal dengan penerima qurban, dan tak memiliki hubungan apapun, tapi kita memberikan qurban kepadanya. Ini semua karena adanya kepedulian, “ ujar Prof. Syahrin. “ Filosofi qurban adalah filosofi Wahdatul ulum, “ tambahnya.

Tahun ini, kata Prof. Syahrin, UIN Sumut menyembelih 39 ekor lembu untuk qurban. Sepertiga dari jumlah itu, dibagikan kepada masyarakat di luar UIN Sumut, termasuk desa binaan UIN Sumut yang menyebar di Sumatera Utara. Selebihnya disembelih di UIN Sumut dan akan dibagikan pada keluarga besar UIN Sumut.

Sebanyak 39 ekor lembu itu merupakan hewan Qurban yang dipersembahkan dosen dan pegawai UIN Sumut, yang setiap bulannya dipotong dari pendapatan dosen dan pegawai yang memiliki jabatan. Dan, ini berlangsung setiap tahunnya sebagai bentuk kepedulian UIN Sumut terhadap masyarakat. “ Ini sesuai dengan slogan UIN Sumut, UIN Kita, “ ucap Prof. Syahrin. Tar