Prof. Syahrin: Islam dan Adat Saling Jinak Menjinakkan

Gardamedannews.com- MEDAN- Pesta pernikahan Mohd. Sholahuddin Nasution SE, M.Si dan Dinda Tasnym Anggraini SE, terlihat cukup meriah. Selain dihadiri Gubsu Edy Rahmayadi dan Rektor UIN Sumut, Prof. Dr. H. Syahrin Harahap, MA, juga tampak mantan Menteri Sosial, Bachtiar Chamsyah, mantan Walikota Medan Abdillah dan Rahudman Harahap, serta pejabat Sumut lainnya.

Maklum, yang menggelar pesta bukan orang sembarangan. Dialah, Dr. H. Asren Nasution MA, yang baru saja diangkat sebagai Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Sumut. Pria yang juga Ketua Lembaga Pembinaan Tilawatil Quran (LPTQ) Sumut itu, sebenarnya berkarir di dunia Militer. Tapi, justru ia memilih mengabdi di Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai bagian dari hidupnya.

Kemeriahan acara yang digelar pada Sabtu (6/8/2022) itu justru terletak pada pesta adatnya. Seluruh dekorasi dan ornamen di sekitar pesta bermotif Mandailing. Bahkan, busana yang dipakai penyelenggara pesta juga busana kebesaran adat Mandailing. Di sini, berkumpul semua Raja-raja mandailing dari Tapanuli Selatan dan sekitarnya.

Setelah Raja-raja adat bersidang, tampillah Prof. Syahrin Harahap dan Dr. Asren Nasution  untuk manortor. Dua tokoh dan intelektual ini sama-sama jebolan UIN Sumatera Utara. Ulama dan agamawan yang melekat pada diri keduanya, ternyata memperkuat komitmen terhadap kearifan lokal. Pesta adat Mandailing, misalnya.

Prof. Syahrin dan Dr. Asren Nasution tampak menikmati Tor-tor itu. Gerakan perlahan kombinasi antara kedua kaki dan tangan mereka, menampilkan sisi relegius, mereka berdoa kepada Sang Maha Kuasa. Alunan Gordang Sembilan yang mengiringi Tor-tor mereka, membuat perlahan mata terpejam, sebagai isyarat penyerahan dan penghambaan yang penuh kepada Allah Swt.

Tor-tor, seperti dipahami banyak orang, adalah tari dalam khasanah Mandailing. Makna tarian ini mengandung sisi religius. Tarian sakral ini pada awalnya untuk menyembah Yang Maha Kuasa. Tapi,  belakangan maknanya berkembang menjadi penghormatan. Bukan saja penghormatan untuk leluhur, tapi juga untuk Raja-raja atau siapa yang pantas untuk diberikan penghormatan.

Sedangkan Gordang Sembilan, adalah instrumen musik kebanggaan masyarakat Mandailing. Jumlah gendangnya memang sembilan, mulai terkecil sampai terbesar. Jumlah sembilan gendang ini juga agak unik. Dan ini merupakan jumlah terbanyak di wilayah suku Batak.Karena gendang di wilayah lainnya seperti Batak Pakpak hanya delapan buah, Batak Simalungun tujuh buah, Toba enam buah, dan di Batak Karo tingga tersisa dua buah gendang.

Kehadiran Prof. Syahrin di pesta adat itu, bukan hanya sekedar berteman dekat dengan Dr. Asren. Lebih dari itu, seperti pengakuan Prof. Syahrin bahwa agama yang dipahami dan dikembangkan di UIN Sumatera Utara adalah Islam yang moderat dan wasathiyah. Artinya, agama juga mengadopsi kearifan lokal.

Prof. Syahrin adalah cendikiawan dan intelektual yang tak mau terjebak dalam perdebatan dikotomi agama dan adat. Apalagi, selama ini Prof. Syahrin dibesarkan dalam nuansa adat dan agama. Bayangkanlah, orang tuanya adalah seorang Kepala Desa di Garoga, Padang Lawas Utara (Paluta) selama 33 tahun. Di daerah kelahirannya ini, masyakatnya sangat kental dengan adat, tapi juga berpegang teguh dengan agama.

Karena itu pula, kendati berpuluh tahun tinggal di Medan, masyarakat heterogen, Prof. Syahrin tetap berpangku dengan adat. Buktinya, dua orang anaknya saat menikah, juga dipestakan secara adat. Konon, sampai tiga hari. Tak heran, kalau banyak seminar atau lokakarya tentang adat Mandailing atau tapanuli Selatan, Prof. Syahrin tetap langganan menjadi narasumber.

Islam, menurut Prof. Syahrin, setelah turun dari Allah, tak terelakkan berpapasan dengan kearifan lokal dan adat istiadat yang dianut umat Islam. Di luar aqidah, Prof. Syahrin menegaskan, menjadi kenyataan bahwa di kondisi tetentu Islam menjinakkan adat istiadat, dan di saat tertentu pula adat istiadat menjinakkan Islam.

“ Dengan pemahaman seperti ini dan implementasi agama seperti itu, akan membuat keberislaman masyarakat Indonesia menjadi lebuh kuat di masa yang akan datang, “ ujar Prof. Syahrin.

Mungkin, itulah yang membuat Dr. Asren Nasution kagum melihat Prof. Syahrin. Berdasarkan pengakuan Asren, Prof. Syahrin adalah guru dan inspirator bagi gagasan, kebijakan serta tindakan-tindakannya. Mantap. Tar